KETIKA AKU LELAH

Ketika aku yang mencintaimu dengan penuh kasih dan ketulusan. Lalu kau abaikan begitu saja, tanpa alasan.

Dan ketika aku sudah sepenuhnya percaya padamu, lalu dengan mudah nya aku kau kelabui.

Sungguh tak ada rasa dendam. Kecewa ada, sakit pun terasa. Serasa di remas-remas hati ini, namun tak mengapa. Masih bisa aku ikhlaskan.

Maaf tak pernah terucap dari bibirmu, penyesalan tak pernah terlihat di raut wajahmu.

Apalagi rasa bersalah telah menyakiti. Entah apa yang kau pikirkan, aku tak tahu.

Padahal aku yang berusaha tak menyakitimu, tapi kau balas dengan taburan air garam di atas luka yang menganga, sampai pedihnya tak terasa.

Sampai pada akhirnya, aku benar-benar kau dustai. Harusnya aku menangis, namun tangis itu berubah, termakan oleh besarnya kasihku padamu.

Ah… Sungguh kadang perasaan itu membuatku menjadi pahlawan super, yang tak mempan kau lukai.

Sekali, dua kali sampai akhirnya tak terhitung lagi kau berkilah. Lama-lama aku terbiasa.

Biasa kau sakiti, biasa kau dustai. Beruntung Tuhan memberikan cukup banyak stok sabar dan sayangku.

Entah sampai kapan, mungkin hingga batu itu berlubang dalam atau pecah berantakan, hingga tak sanggup terbentuk lagi.

Dan pada akhirnya…

Ketika ranting itu melambai menyadarkan diriku, yang penuh kebodohan akan cinta palsu mu.

Aku sedikit terhenyak.

Mungkin kau memang bukan untukku. Salah.
Ya aku salah selama ini menilai mu, mungkin aku yang terlalu banyak kurang di matamu.

Hingga salah sedikit ku, tak berhasil membuatmu memelukku bahkan mempertahankan diriku.

Sampai pada saatnya, kau harus ku lepaskan. Ku relakan.

Pertahankan jika kuatmu masih pantas untuk di perjuangkan. Lepaskan jika kuatmu tak di pedulikan.

Tuhan seakan berkata “Dia memang bukan untukmu”.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu