Keterbukaan adalah Kunci Penyembuhan

Sumber foto: Pixabay

Bisa dibayangkan gelas ukuran 200 ml diisi air 1 liter. Apa yang terjadi? Air akan tumpah dan mengalir ke mana-mana. Demikian juga batin kita, kapasitas sangat terbatas. Akibat dari Overload, emosi akan meledak-ledak, seperti gelas penuh tadi.

Jangan heran kalau orang sekarang semakin mudah terbakar emosinya. Pertama memang tidak tahu cara mengolah emosi. Kedua, sudah tahu caranya tetapi malas berproses, karena sangat sulit sekali. Semua kembali pada niat. Tiada hal yang sulit kalau mau tekun melakukan segala sesuatu.

Penyebab sulitnya mengolah emosi adalah Luka Batin. Ada yang terluka sejak dalam kandungan, ada yang masa kecil atau bahkan sudah dewasa. Umumnya luka batin itu terjadi pada masa kecil.

Dari pengalaman luka batin dalam kandungan walaupun dari ketidaksengajaan mamiku, masa kecil jadi sakit-sakitan dan kuper (kurang pergaulan). Aku sarankan bagi yang baru berumah tangga, apalagi yang sedang hamil, berhati-hatilah dengan pikiran. Kekuatan pikiran benar-benar menjadikan apa yang dipikirkan menjadi kenyataan, maka banyaklah berpikir hal-hal positif. Supaya tidak menjadikan anak dengan kepribadian yang sulit.

Aku baru menyadari dan mengerti luka batin waktu kuliah pada tahun 1993. Secara rohani aku perdalam dengan ikut retret, doa dan belajar meditasi pada tahun 2000. Mulailah aku membuka diri dengan konseling. Aku menceritakan semua masalah dan kesedihan yang terjadi dalam hidupku. Aku sungguh merasakan pemulihan luka batin. Walaupun masalah tak pernah absen, aku lebih tenang menghadapinya. Beban-beban batin itulah yang membuat orang Overload dan lepas kontrol.

Aku menyarankan bagi para pembaca, mulailah refleksi batin, ada luka apa yang masih tertinggal.
Lebih cepat lebih baik. Prosesnya perlu waktu lama. Aku sudah terbiasa sejak kecil, dari cara papiku selalu mengandalkan Tuhan dalam menghadapi segala perkara, sehingga sekarang benar-benar tegar.

Selain itu juga rahmat Tuhan untuk mau bertekun pulihkan luka batin itu. Perlu cari pakar rohani/ mentor/ psikolog untuk membantu membongkar luka batin itu. Bayangkan saja kalau luka ditutup rapat, bukannya sembuh malah membusuk. Demikian juga dengan luka batin, perlu disembuhkan.

Pengalaman terbaruku tanggal 10 Oktober 2020 bertepatan Hari Kesehatan Mental Dunia, aku menceritakan masalah paling kelam dalam hidupku berjudul Berjiwa Besar Hadapi Badai Hidup

Sungguh suatu anugerah karena aku sanggup menceritakan tanpa beban pikiran apa yang akan orang pikirkan tentang aku. Tujuanku supaya orang tetap mempunyai harapan walaupun badai menerpa. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan. Semua masalah seberat apapun yang boleh menerpa hidup kita, sudah dalam filter Tuhan. Sehingga kita diberi kekuatan dalam menghadapinya.

Dengan berbagi, memberi kesaksian bagaimana Kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita saat di tengah badai, menyelamatkan banyak jiwa yang terpuruk. Jangan pernah ragu untuk berbagi cerita yang membantu penyembuhan batin.

Manfaatkan waktu yang ada untuk berproses pulihkan luka batin. Keterbukaan adalah kunci Penyembuhan batin. Selamat berjuang selagi masih ada kesempatan. Tetap tenang walaupun badai menerpa, sebab Tuhan selalu menyertai langkah hidup kita.

The Power of Thinkingđź’–

The Power of Forgivenessđź’–

Solo, 13 Oktober 2020

https://imariscornerparenting.com/keterbukaan-adalah-kunci-penyembuhan-oleh-wenny-kartika-sari/

Wenny Kartika Sari

Repost 26 Mei 2021