KESAYANGAN part 2

“Ya beda. Rasanya gimana gitu. Makanya dulu Mba, waktu kita kecil kadang kita merasa orang tua kita suka pilih kasih. Ternyata sekarang saya merasakan sendiri. Memang rasa sayang ke anak itu gak bisa dipaksakan. Ada yang biasa saja, ada juga yang berlebihan. Ah, Mba Sarah mah gak ngerti, anaknya baru satu sih,” jelas mba Via.

“Oh begitu ya Mba?” Sarah masih terheran-heran.

“Iya, sama Rio ini, entah karena dia bungsu atau karena lelaki satu-satunya. Rasanya sayang banget gitu sama dia. Makanya Rio tuh manja. Beda sama kakaknya lebih mandiri,” tambah mba Via lagi. “Pokoknya apa yang Rio mau, saya usahakan terwujud deh. Kalau kakaknya masih pikir-pikir dulu, perlu atau tidak, penting atau
tidak.”

Sarah hanya mampu tersenyum saja dan mencoba mencerna apa yang mba Via katakan. Benar dia kurang mengerti karena dia baru memiliki Aisyah, semua tercurah untuk anak semata wayangnya. Namun Sarah juga merasa tidak semua yang Aisyah mau selalu diwujudkan. Kadang perlu ada diskusi dan pertimbangan lagi, memang butuh dan perlu atau hanya sekedar ingin saja.

Benarkah para orang tua sesungguhnya memiliki anak yang lebih favorit? Anak yang lebih disayang dibandingkan saudaranya yang lain? Apakah tidak tercipta kesenjangan diantara anak-anak itu sendiri? Ah, pusing! Tanpa sadar Sarah menggelengkan kepalanya.

Tak lama terlihat anak-anak berhamburan keluar kelas dengan membawa bingkisan. Baiklah, sekarang waktunya pulang dan kembali ke rutinitas sehari-hari lagi. Sarah pun bersiap memberikan senyum terbaiknya untuk menyambut Aisyah.

***

Tamat

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie