KERIKIL KERIKIL KEHIDUPAN

Malam semakin dingin dan sepi, yang terdengar hanya isak tangisku. Dalam pelukannya ku tumpahkan segala kecewaku.

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu? Lalu bagaimana dengan anak-anakmu? Pikirkan itu?”

Anak-anak? Sejenak ku termenung. Kilatan wajah mungilnya menari-nari di mataku. Tangan mungilnya menyentuh hidungku “Mama …” bocah laki-laki yang baru berumur dua tahun itu memelukku. Dia adalah buah cinta kami yang kedua. Dan saat melahirkannya aku tak tahu Randi ada dimana.

“Rasanya sakit, Mah!”

“Mamah mengerti,” katanya sambil menangis.

“Maafkan Randi, Mamah tidak tahu dia seperti ini padamu. Kalau mamah tanya tentang keadaan kalian, Randi selalu menjawab baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan kehidupan rumah tangga kalian. Maafkan mamah tidak peka dengan curhatanmu selama ini.” Tangisannya semakin memuncak. Kali ini aku yang menenangkannya.

“Jika keputusanmu tidak bisa dirubah lagi, mamah akan mendukung apapun keputusanmu. Namun, mamah minta untuk terkahir kalinya cobalah pikirkan kenangan manis tentang Randi. Kenangan bahagia kalian selama berumah tangga. Mungkin saat ini Randi sedang khilaf, Tapi pasti adakan kelebihan Randi?”

*****  

“Randi berbeda dengan yang lain, ayah merasa berbeda cocok dengan Randi.” Aku senyum-senyum bahagia tentunya, kekasih mendapat pujian dari Ayah. Tapi aku pura-pura acuh. “Dari semua laki-laki yang datang ke rumah, hanya dia yang membawa hadiah  buku untuk ayah, dan buku itu adalah buku yang ayah cari-cari selama ini.” Ayah memperlihatkan buku pemberian Randi. Di kampus Randi memang dikenal sebagai seorang kutu buku dan sosok yang religious. Kami bertemu saat masa orientasi pengenalan kampus. Hari itu aku terlambat datang, dan sebagai calon mahasiswa baru aku terlambat datang pada apel pagi. Ganjarannya aku berdiri di depan lapangan dengan menggunakan topi badut. Disanalah pertama kali aku berkenalan dengan Randi.

Randi sangat jarang terlihat mengobrol dengan lawan jenis. Kalaupun terpaksa harus bersapa dengan wanita, dia menjaga pandangannya selalu menunduk. Tapi ketika berdebat dalam sebuah diskusi dia bak raja hutan yang siap melahap pendapat teman-temannya dan membuat semua tercengang dengan kecerdasan dan argumentasi-argumentasi yang diutarakannya.

Setahun kami berkenalan, dia menembakku. kami. “Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?” itulah tembakannya langsung menohok dan membuatku tak mampu menolak. Hubungan kami tergolong unik. Meskipun kami tinggal dalam satu kampus namun tak ada seorang pun yang tahu hubungan kami. Resikonya, dia harus tahan banting ketika ada laki-laki lain menembakku tepat di depannya. Dia hanya tersenyum, karena yakin aku takkan pergi kamana. Izin keluargaku sudah dia kantongi. tiga bulan setelah menembakku dia langsung melamarku dan keluargaku menerimanya. Randi sosok yang sangat menghormati wanita. Dia menjaga ku, mengendalikanku dari jauh. Pernah suatu kali ketika ada acara keluar kampus kami kemalaman di tengah jalan. Dan memaksaku untuk menginap di kamar hotel yang sama.

“Itulah yang membuatku mantap memilihnya Bu, dia sangat menjaga kehormatanku. Walaupun kami berada dalam satu kamar, dia sama sekali tidak menyentuhku dan menjaga jarak denganku. Secara kami sudah bertunangan, berdua dalam satu kamar. Dimabuk cinta. Entah apa yang terjadi. Tapi Randi lain.” Ibuku nampak shok mendengar penjelasanku. “Percaya padaku Bu, tidak ada apa-apa yang terjadi.”

Tahun kedua pernikahan buah cinta kami lahir. Dari awal pernikahan hubungan kamipun tidak biasa. Kami menjalani pernikahan LDM (Long distance marriage). Dan itulah celah orang ketiga hadir dalam kehidupan rumah tangga kami. Dan menghancurkan segalanya.

***

“Maafkan aku. aku yang salah. sekarang di hadapan ibuku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dari sejak bunda bertemu dengannya, aku sudah memutuskan hubungan kami. Untuk bertemanpun tidak. Karena itu keinginanmu.” Mas Randi menggenggam tanganku.

“Aku mohon maafkan aku. setelah ini aku akan mencari pekerjaan lain, agar bisa selalu ada di rumah. Kita akan memulai hidup bersama dari awal lagi.”

Aku masih diam. Ibunya Randi menatapku matanya memohon agar aku memaafkan anaknya.

“Baiklah. Aku juga minta maaf atas kekuranganku selama ini.”

Mas Randi memelukku. “Terima kasih Bunda.”

Malam itu, kami sepakat untuk memulai hidup bersama dari awal lagi.