KEPUTUSAN MENGAMBIL RUKHSOH

Keputusan Mengambil Rukhshoh

Salah satu nikmat di tahun ini adalah berjumpa dengan Ramadhan. Alhamdulillah. Ramadhan tahun ini walaupun sedang diuji dengan pandemi yang memaksa seluruh aktivitas dilakukan dirumah saja, tapi bagiku tetap terasa lebih semarak. Hadirnya sang buah hati membuat suasana Ramadhan lebih berwarna dan banyak tantangan.

Tahun lalu si kecil masih berada di dalam rahim. Usianya 2 bulan saat itu. Alhamdulillah aku bisa melaksanakan ibadah puasa walau hanya mampu selama 15 hari. Saat itu kondisiku yang cukup payah membuatku memilih mengambil rukhshoh (keringanan) yang sudah Allah beri khusus kepada ibu hamil.

Tahun ini ternyata aku juga harus mengambil rukhshoh. Awalnya kupikir dengan usia bayiku yang sudah 4 bulan membuatku mampu berpuasa. Namun, ternyata dengan berat hati ku harus rela melepas lagi ibadah puasa tahun ini demi mengASIhinya.

Hari pertama puasa begitu semangat aku laksanakan. Ya, sebelum memutuskan mengambil rukshoh, aku sudah terlebih dahulu mencoba puasa di hari pertama untuk melihat efeknya. Alhamdulillah aku kuat, badanku juga baik-baik saja, hanya memang terasa sangat haus. Namun, tidak dengan bayiku. Seharian ia selalu minta menyusu. Tanpa henti. Padahal setiap menyusu waktunya bisa sampai 30 menit.

Jeda waktu antara sesi menyusu tidak sampai 1 jam. Si kecil rewel seperti tak puas. Dampak lainnya, ia jadi tidak bisa tidur. Matanya sayu dan tak seaktif biasanya. Kondisinya aku tidak pernah pompa ASI sehingga tidak punya stok ASI.

Padahal saat sahur aku sudah berusaha memastikan asupan cairan tidak kurang. Makan sayur dan buah. Selain itu juga mengikuti saran beberapa teman untuk minum air nabeez atau air rendaman kurma.

Setelah melihat kondisi tersebut maka aku memutuskan untuk membayar fidyah dan mengganti puasaku di hari lain saat bayiku sudah tidak bergantung pada ASI.
Bagi para ibu yang kondisinya tidak memungkinkan untuk puasa jangan khawatir, Allah yang maha Pengasih sudah memberikan keringanan dengan syarat membayar fidyah dan mengganti puasa di hari lain saat sudah mampu.

Berikut yang menjadi landasan rukhsoh ibu menyusui yang dikutip dari: https://islam.nu.or.id/post/read/53365/puasa-bagi-ibu-menyusui

“Madzhab syafii berpendapat, bahwa perempuan hamil dan menyusui ketika dengan puasa khawatir akan adanya bahaya yang tidak diragukan lagi, baik bahaya itu membahayakan dirinnya beserta anaknya, dirinya saja, atau anaknya saja. Maka dalam ketiga kondisi ini mereka wajib meninggalkan puasa dan wajib meng-qadla`nya. Namun dalam kondisi ketiga yaitu ketika puasa itu dikhawatirkan memmbayahakan anaknya saja maka mereka juga diwajibkan membayar fidyah”. (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet ke-2, h. 521). 

“Untuk mengetahui apakah puasa tersebut bisa membahayakan (bagi dirinya beserta anaknya, dirinya saja, atau anaknya saja)bisa melalui kebiasaan sebelum-sebelumnya, keterangan dokter yang terpecaya, atau dengan dugaan yang kuat” (As-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, Kairo-Fath al-I’lam al-‘Arabi, 2001, juz, 2, h. 373)

Wallahu’alam.

Nulisbareng/ibunyanajma