Kenangan di Ruang Operasi: Pertemuan Nyata Pertama Kami

Kenangan di Ruang Operasi: Pertemuan Nyata Pertama Kami

Bicara tentang kenangan, seolah sedang berada di dalam sebuah perpustakaan. Begitu banyak ingatan yang tersimpan hingga sulit untuk memilih mana yang akan diceritakan. Namun, yang paling berkesan adalah saat aku menjalani operasi caesar pertama.

Operasi, sebuah kata yang awalnya menakutkan di telingaku. Membayangkan pisau-pisau kecil nan super tajam itu menyayat bagian tubuh, rasanya kok ngilu.

Saat itu usia kehamilanku sudah berada dalam hitungan empat puluh minggu. Seharusnya sudah ada tanda-tanda menuju persalinan. Akan tetapi, sang buah hati tampak nyaman-nyaman saja di dalam rahim bundanya ini. Beberapa hari sekali dokter meminta untuk dilakukan USG, melihat apakah air ketubanku masih dalam kualitas bagus dengan volume yang standar.

Akhir Januari 2016, dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar terhadap kehamilanku. Saat itu dokter mengatakan bahwa air ketubanku sudah mengalami pengapuran, hal ini dapat membahayakan si bayi. Setelah melihat jadwal kerjanya, diputuskanlah tanggal 2 Februari 2016 sebagai hari bersejarah itu.

Tiga hari menjelang operasi, suamiku harus masuk rumah sakit akibat penyakit Typus. Beruntung ada kedua orang tua dan mertua yang mendampingi kami. Mertua mendampingi suami selagi ia dirawat, sedangkan kedua orang tua mendampingi diriku menghadapi operasi.

Tiba saat hari “H”, the big day. Setelah USG terakhir kali, aku dibawa menuju ruang operasi. Hari itu adalah kali pertama diriku menggunakan baju operasi.

Ruang operasi dingin sekali, sama dinginnya dengan meja operasinya, membuat alergi kambuh. Ya, jika udara terlalu dingin, hidung ini otomatis langsung mampet dan tak lama kemudian bersin-bersin. Setelah duduk di meja operasi, dokter memberikan bius epidural yang disuntikkan pada saraf punggung bagian bawah. Kemudian, prosedur operasi caesar dilakukan.

Ternyata operasi caesar tidak mengerikan seperti yang aku bayangkan. Tak lama proses operasi berjalan, aku mendengar suara tangis bayi yang awalnya malu-malu, lalu pecah membahana. Sungguh tidak bisa terlukiskan perasaanku saat itu. Dia yang telah aku dan suami nanti-nantikan selama hampir empat tahun pernikahan kami, akhirnya dijumpai.

Wajah putihnya, dengan dagu terlipat, mata sipit, dan rambut yang tebal, begitu tampan. Tak kuasa air mata mengalir saat kali pertama aku mencium dirinya. Perjumpaan pertama kami di dunia. Tak ‘kan pernah terlupa hingga akhir hayat.

Aku mencintai sejak pertama mengetahui kehadirannya di dalam rahim. Kemudian, bertambah jatuh cinta saat pertama berjumpa di ruang operasi. Semakin hari rasa cinta ini kian tumbuh. Dia anak pertamaku, “Arfan”.

Kini usianya sudah mendekati lima tahun. Tidak terasa tahun depan ia akan menapaki jenjang sekolah di Taman Kanak-kanak. Semoga Allah selalu melindungi dan menjaganya dunia-akhirat.

Nubar-Nulis Bareng/Asri Susila Ningrum