KEMPING

ANOTHER STORY TO TELL PART 5

Setelah agak terang, kami bergegas masuk ke area perkemahan. Mencari lokasi yang tentu saja dekat dengan sungai. Suatu hal yang menjadi syarat wajib lokasi tenda kami.

Yang pertama kali dilakukan setelah membongkar muatan bagasi adalah segera memasang kompor. Sementara para ibu sibuk menata ‘dapur’ agar senyaman mungkin saat digunakan nanti. Anak-anak pun langsung bermain bersama.

Selesai urusan kompor, lanjut dengan tenda besar untuk menutupi ‘dapur’ yang bisa juga berfungsi sebagai ‘ruang keluarga’ ataupun ‘ruang makan’ kami. Tenda besar selesai, para ibu mulai memainkan kepiawaiannya untuk menyiapkan sarapan. Para bapak, belum bisa beristirahat karena masih harus mendirikan tenda yang berfungsi sebagai ‘kamar tidur’.

Bersamaan dengan selesainya semua tenda berdiri maka selesai pula menu sarapan dihidangkan. Kami semua berkumpul menikmati sarapan. Terasa nikmatnya makan bersama kadang diselingi dengan celetukan lucu dari anak-anak.

Selanjutnya acara bebas untuk para bapak dan anak-anak. Para ibu? Tentu saja berjibaku menyiapkan makan siang. Anak-anak sudah dapat dipastikan bermain air sepuasnya di sungai.

Itulah salah satu alasan lokasi harus dekat sungai. Agar kami dapat memantau anak-anak saat bermain. Selaun itu juga agar kami mudah mencuci peralatan makan kami.

Malam pun tiba, tak diduga ternyata udara sangat dingin sekali. Api unggun yang dibuat pun, tak mampu menghalau dingin yang menusuk. Akhirnya, satu persatu memilih masuk tenda untuk bercengkerama dengan selimut kesayangan.

Malam semakin larut. Dingin menusuk tak dapat dihalangi oleh selimut. Jaket pun hanya sekedar terbalut. Berdoa agar mentari segera datang menjemput.

Akhirnya pagi yang dinanti pun tiba. Senangnya dapat menghirup udara segar. Mencoba kembali membuat api untuk mencari kehangatan.

Apakah kami jera berkemah? Tentu tidak. Sejak saat itu, kemana pun tujuannya jaket harus lengkap. Antisipasi jika kelak berubah haluan lagi.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie