Kemilau Mutiaraku

Bagian III

Kuseka airmataku, dan kuselesaikan berbenah di kamar Dini, seolah-olah hatiku ikut tersayat pedih,

‘astaghfurullah Dini, mengapa kau sebodoh itu?’

gumamku seorang diri. Kukemasi barang-barang yang akan kubawa kerumah sakit Ashyfa’, kupacu motorku agar segera tiba, kasihan buk e pasti sudah menungguku disana.

Kuparkir motor maticku, segera kubergegas ke lantai 2, tampak buk e sedang selonjoran dikursi tunggu depan kamar pasien.

“Buk e, maem yuk ini Laras bawakan makanan dan teh hangat untuk buk e, mumpung masih hangat segera dimakan dan diminum gih… Sementara Laras mau lihat kondisi Dini dulu”.

Perlahan kubuka pintu kamar yang berderet-deret itu, nampak tertidur sendirian seorang remaja yang hampir sebaya denganku, kudekati perlahan kuusap anak rambutnya dengan penuh rasa sayang, seolah tau akan keberadaanku Dini perlahan membuka matanya.

” kak Laras..”

suaranya lirih hampir tak terdengar.

“Sssst….”

ku isyaratkan telunjuk menempel di bibirku, agar Dini tidak banyak bicara karena kondisinya masih sangat lemah, genangan airmata yang tak lagi bisa terbendung hingga tangisnya pun terpecah, kusambut tangisnya dalam pelukkanku.

“Sudahlah dik, semuanya sudah berlalu, kak Laras sudah tau semuanya, sabarlah dik, ini adalah ujian dan teguran dari Alloh untukmu, tanda Alloh masih sayang dan memberimu kesempatan untuk mengubah hidupmu, kami tetaplah keluargamu dik, yang senantiasa akan mendukungmu. Bersama-sama kita akan hadapi permasalahan yang kamu hadapi, kamu tidak sendiri dik…ada kami”

“Maafkan aku kak, sejujurnya aku malu dan tak sanggup menatap wajah keikhlasan kalian, aku sudah merasa sangat berdosa menjadi penghianat dalam kasih sayang keluarga ini”.

” sudahlah, dik yang berlalu sudahlah berlalu, bertaubatlah nasuhah insyaAlloh kasih sayang Alloh seluas langit dan bumi”.

Tangis kami berdua terpecah, kukecup kening saudariku

“Istirahatlah, agar kondisimu segera pulih, kita akan menata hidup kembali setelah ini”.

Kutinggalkan Dini sendiri meringkuk sepi, dalam buaian rasa sesal yang tak terperi, aku hanya beristighfar dalam hati mendoakan saudariku semoga Alloh berikan hidayah untuknya agar dia bisa kembali menata hari-harinya sesudah ini.

****

Satu tahun telah berlalu, siang itu cuaca nampak cerah, dengan berbalut gamis pink motif bunga segar dan kerudung warna fanta muda polos, saudariku terlihat ayu, Dini dengan mantap maju kedepan podium disebuah acara inspirasi remaja, perhelatan yang dikemas disebuah hotel berbintang.

Dengan menggerakkan roda dari kursi rodanya, Dini mulai berbicara meski disela orasinya ada airmata tapi tetap bersemangat untuk menggugah semangat para remaja yang menghadiri acara tersebut. Ada airmata haru dan bangga dariku, sejak kejadian itu Dini memang berusaha bangkit dari keterpurukkannya, berjuang menjadi pribadi yang lebih berharga, meski penyakit yang dideritanya terus menggerogotinya tapi semangat hidupnya meraih ridho-Nya menyala luar biasa, Dini sudah bermetamorfase, menjadi pribadi yang tegar dan ikhlas.

Beberapa buku sudah ditulisnya undangan-undangan dari acara remaja banyak diterimanya, kini Dini adalah inspirasi kaum remaja yang tak mudah putus asa.

Selesai

LellyHapsari/RumahMedia