Kemewahan Baru, Musuh Kekinian

Alhamdulillah ya, kita telah lewati sepuluh hari pertama Ramadan tahun ini.
Ibadah yang sedikit berbeda telah kita jalankan. Penyesuian yang luar biasa. Kita di rumah saja.
Tidak ada tarawih di masjid, tidak ada kuliah subuh di masjid, tidak ada buka bareng, tidak ada pasar pabukoan atau pasar tajil. Hening. Ramadan kita berlangsung hening dan sepi, dan semoga lebih khusu’.

Corona telah memaksa kita, menjadi orang baru dan mengikuti situasi baru. Terpaksa mengikut, terpaksa berubah. Sebab jika tidak seperti seluruh teori evolusi yang beredar, yang tidak mampu menyesuaikan diri akan tersingkir dengan sendirinya. Alam akan menyeleksi, dan bisa saja kita menjadi tercoret untuk bertahan, bila tetap kukuh dengan pendapat sendiri.

“Apakah kita bisa pulang lebaran ini Bu?” begitu sulungku bertanya, disela buka puasa kami kemarin.

Aku tersenyum dan mengalihkan pandangan pada suami, berharap ia menjawab pertanyaan itu. Sesaat semua hening.

“Kalau bisa lewat jalan darat, kalian bisa pulang. Ibu tidak.” Paparku singkat.

“Kok Ibu tidak?” tanya bungsuku.

“Sebab ada larangan mobilisasi, sebagai ASN bila ibu langgar maka ada hukuman disiplinnya. Kalian tidak mau kan Ibu terkena hukuman disiplin?” aku memandang Adis, agak lama.

“Enggak lah. Kalau Ibu nggak ikut, kita di sini saja kalau begitu.” Sulungku memutuskan sendiri rencana mudik yang diusungnya.

“Sulit juga kita pulang Bang, Jika pakai pesawat udara, harus ada izin terbang dan tujuannya bukan mudik. Kalau pakai darat, disetiap perbatasan propinsi kita akan diperiksa. Belum tentu dapat izin masuk. Kemarin Bapak lihat di televisi ada yang mudik, dan saat memasuki provinsi tujuan disuruh putar balik oleh aparat.” Akhirnya Pak suami bicara juga.

Situasi yang baru ini memaksa kita beradaptasi. Tradisi tahunan yang kita tunggu menjadi sesuatu yang sangat mewah. Tidak saja mahal namun juga tidak bisa kita raih. Malah untuk yang berstatus ASN jika tetap melakukan akan menuai sebuah hukuman.

Fix, tradisi mudik menjadi musuh pada situasi saat ini.
Fix, mudik menjadi kemewahan mengawang yang tidak bisa diraih.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Saya yakin sahabat semua sudah membayangkan apa yang harus dilakukan. Untuk berperan secara aktif dalam memutus arus penyebaran virus maka kita perlu menahan diri. Mengikuti perubahan yang terjadi, dan tetap di rumah saja. Buktinya kita bisa tarawih di rumah, kultum di rumah dan tadarus di rumah. Maka pastilah tidak menjadi berat untuk lebaran juga di rumah saja. Yang di rantau tetap diperantauan, yang di kampungpun tetap di sana.

Fix, lebaran tanpa mobilisasi.

Sebuah hal yang baru ya. Tapi kita masih bisa saling berjumpa, video call ramai-ramai atau dengan metode lain yang sangat banyak fasilitasnya. Sesungguhnya semua sudah borderless bukan, dengan berbagai aplikasi yang bisa diakses dan memudahkan komunikasi.

Mudik menjadi sebuah mimpi yang manis. Rindu yang tadinya dapat ditumpahkan disaat mudik, tertahan sementara. Rasanya tak mengapa ya. Berharap tahun depan semua kondisi kembali membaik. Untuk tahun ini mari kita niikmati saja lebaran bareng, semuanya, namun di rumah masing-masing.

Nulis bareng/ Maulina Fahmilita