Kembali Fitri di Kenormalan Baru

Setelah sebulan berpuasa, satu Syawal selalu dirayakan sebagai hari kemenangan. Hari dimana seluruh wajah gembira, sumringah dan penuh tawa. Hari dimana jiwa-jiwa kembali fitri setelah dibasuh sebulan penuh.

Melewati Ramadan, sudah mendekati tiga bulan kita menyesuaikan diri. Mengubah kebiasaan, karena keadaan. Kondisi yang memaksa, sebab pandemi yang melanda. Tidak saja di lingkungan kecil kita, namun di seluruh dunia. Wabah yang mengubah kebiasaan, barangkali juga peradaban.

Saat pandemi terparah di tahun 1918, ketika flu Spanyol berlangsung. Tercatat 500 juta orang terinfeksi dan 50 s.d. 100 juta kematian (Data Wikiped). Korban terparah terjadi pada gelombang kedua. Ketika masyarakat mulai jenuh dengan karantina yang harus dilakukan.

Mari belajar dari sejarah. Saat ini kejenuhan mendera kita, lalu idul fitri menjadi alasan untuk melepas itu semua. Jika kita melakukannya, maka kita telah bermain api. Melupakan protokol covid-19, berarti mempertahankan corona bersama kita. Benar bahwa kemungkinan corona pergi dalan satu dua hari ini adalah mimpi. Tapi tidak pula pas, jika laku kita mengabaikan semuanya.

Bukankah Ramadan memberikan pelajaran menahan diri? Lalu mengapa kita tidak mengimplementasikan kemampuan menahan tersebut. Sebulan kita berhasil, maka berarti membuatnya menjadi sebulan lagi bukanlah hal yang sulit. Bahkan menjadikannya sebagai kebiasaan baru seharusnya bisa laju. Tanpa pretensi, tanpa aksi.

Berbagai telaah dan hasil penelitian telah digelar. Kita harus berdamai dengan corona. Harus membiasakan diri hidup bersama mereka. Sampai anti virusnya ditemukan. Banyak pendapat tentang hal ini. Menemukan anti virus bukanlah hal yang mudah. Mutasi corona bisa berbeda pada orang yang berbeda dan lingkungan yang berbeda. Menemukan antivirus yang mampu mengantisipasi berbagai corona yang bermutasi butuh waktu, mungkin setahun, dua tahun atau lebih dari itu. Maka protocol covid-19 menjadi sebuah kewajaran, kebaruan yang harus dibiasakan. Kebiasaan yang harus ditanamkan. Diterima dan dilakukan.

Inilah kenormalan baru. Kita tidak tahu kapan corona berlalu. Namun hidup harus melaju. Maka berubahlah. Toh setiap diri sudah membiasakannya. Mungkin semua penuh harap. Berharap corona sirna saat Ramadan tiba, lalu bergeser, corona hilang saat idul fitri menjelang. Lalu bergeser lagi. Doa akan selalu kita panjatkan, harap selalu digelorakan. Namun penyesuaian diri juga mesti dilakukan.

Pada masa datang, kita harus tetap menggunakan masker. Harus tetap menjaga jarak. Harus tetap mencuci tangan dengan benar. Harus tetap konsisten dengan protocol covid-19. Toh seluruh protocol itu tidak ada yang salah. Maka jangan lelah, jangan lengah. Inilah perubahan yang harus dipertahankan.

Seluruh pelajaran Ramadan, yang menyucikan jiwa, harus kita implementasikan dalam menyambut kenormalan baru. Menahan diri dalam segala hal. Menikmati revolusi dalam pertemuan, pekerjaan, juga keseharian. Saatnya berubah, dan sesungguhnya mudah. Tekadkan dalam hati, untuk kemaslahatan diri dan lingkungan, untuk sebuah kebaikan yang lebih besar.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita