KELIRU

KELIRU

Kamar yang hening, dipecahkan oleh suara pelan Dina, istriku, terdengar keras di telingaku bagai palu hakim.

“Aku ikhlas berpisah denganmu, Mas. Anak-anak biar ikut sama aku.”

Suara Dina begitu tegas, tidak bisa lagi diganggu-gugat. Salah satu karakter istriku yang sangat kukagumi dulu, sayangnya, sifatnya itu juga yang akan memisahkan kami.

“Tolong kau pikirkan sekali lagi, Din. Kasihan anak-anak,” ucapku dengan memelas.

Terbayang Ratih dan Rama, putri-putraku yang masih duduk di bangku SMA dan SMP. Aku yakin, mereka masih butuh sosokku sebagai ayahnya.

Dina menggeleng, air mata terus mengalir di wajah cokelat itu. Aku hanya bisa terus memohon. Delapan belas tahun hidup bersama, Dina selalu mendampingiku tanpa pernah mengeluh. Tubuh mungil itu kuat menahan sakit saat harus berjuang melahirkan Ratih dengan normal padahal di detik-detik terakhir harus dirangsang karena bukaannya berhenti, hilang. Aku masih ingat betul kejadian itu, karena bidan yang membantu persalinan terus memuji ketabahan Dina, tak sekali pun terdengar menjerit, padahal kalau dirangsang, sakitnya persalinan menjadi berlipat ganda.

Istriku tidak berubah ekspresinya saat kupulang membawa gaji yang tak seberapa. Aku menjadi pesuruh di sebuah bank swasta. Dina bisa mengolah gajiku sehingga cukup untuk sebulan.

Ketika kuutarakan hendak menimba ilmu lagi demi jenjang karier, Dina menatapku dengan mata berbinar.

“Bagus sekali, Mas. Aku dukung keputusanmu. Jangan pikirkan tentang makan sehari-hari. Mumpung anak-anak masih belum sekolah.”

“Aku kuliah malam dan kerja dari pagi sampai sore, tidak bisa bantu kamu urus anak-anak.”

Dina menggeleng dengan kuat, menggenggam erat jemariku dan berkata dengan nada mantap.

“Jangan pikirkan itu. Fokus saja dengan belajarmu, Mas. Aku akan urus anak-anak dengan baik. Ini semua demi masa depan kita.”

Melihat tekadnya yang begitu kuat, membuat aku semangat kuliah malam. Ada harapan memperbaiki taraf hidup karena bank tempatku bekerja sering menawarkan jenjang karier buat semua staf, sesuai dengan skillnya.

Pendamping hidupku itu rela menjahit siang-malam untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Gajiku habis untuk biaya kuliah.

“Kita berdua akan sampaikan kepada mereka alasan kita berpisah,” ucap istriku kembali, membuat kepala ini semakin berat rasanya.

Dulu, saat aku akhirnya bisa masuk menjadi staf di bank tersebut. Kehidupanku mulai berubah. Kekayaan datang dengan sendirinya, aku bisa memenuhi kebutuhan sekolah Ratih dan Rama dengan baik. Jika Dina mau minta apa pun bisa kupenuhi. Kesederhanaan yang sudah mendarah daging pada istriku membuat dia tidak gelap mata. Tetap tampil bersahaja dan apa adanya. Saat kuminta berhenti menerima orderan jahitan, Dina tersenyum.

“Dulu aku menjahit untuk memenuhi kebutuhan kita semua. Sekarang aku menjahit untuk menyalurkan hobby saja, Mas. Jadi, tenang saja, aku tidak lelah, kok.”

Keputusan Dina kuhargai, membiarkan dia menikmati kesenangannya. Kehidupan kami bagai ombak di teluk.

“Kapan, Mas?”

“Kapan, apa?”

Aku tersentak, menatap bingung ke arah Dina.

“Kapan kita bicara dengan anak-anak. Aku mau kita cepat menyelesaikan masalah ini.”

“Aku tidak bisa ….”

“Kenapa?”

Apa yang harus kukatakan pada anak-anak? Aku berselingkuh? Menduakan Bunda yang sangat mereka sayangi? Bagaimana aku menghadapi tatapan terluka di mata mereka? Aku tidak sanggup.

“Kau mau Santi yang mengatakan pada mereka seperti dia mendatangi aku?” tanya Dina dengan nada tinggi. “Aku bisa buat perhitungan kalau sampai dia melakukan itu.”

Dina menyebut nama Santi, sekretarisku, janda yang membuat aku terpedaya. Aku tidak menyadari kapan terjerat rayuan Santi. Apakah saat menghabiskan kebersamaan berjam-jam di kantor? Atau saat menjamu klien makan malam? Aku begitu terpesona, kecantikan dan gaya hidup glamour Santi. Dia terasa pas mendampingi, sesuai dengan jabatanku.

Hubungan yang kuyakini bisa terjalin tanpa sepengetahuan Dina. Pendamping hidupku itu selalu percaya padaku, selama bisa memenuhi semua, baik kebutuhan lahir maupun batin. Siapa sangka, Santi berbeda, dia menuntut lebih.

Tanpa sepengetahuanku, Santi mendatangi Dina dan mengatakan tentang hubungan kami.

Malam ini, aku ingin memberi kejutan, mengajak Dina keluar makan malam untuk merayakan pernikahan kami. Sengaja tak kuberitahu dia, kalau sudah memesan tempat di salah satu restauran terkenal. Tatkala kuminta dia segera bersiap-siap, hanya tatapan dingin kuterima.

Istriku mengatakan ada sesuatu yang harus dibicarakan. Kisah yang kujalin serapi mungkin setahun ini, disampaikan dengan runtut oleh Dina tanpa berkedip. Aku hanya mampu mendengar dalam diam tanpa bisa membantah. Santi telah mengkhianatiku.

Permintaan maaf dan penyesalan apa pun yang kusampaikan tak bisa lagi mengobati luka hati istriku. Ketegaran yang ditunjukkan Dina selama ini, hilang ditelan badai.

“Kau lupa pesan ayahmu saat kita menikah dulu, harta, tahta, wanita adalah ujian buat kita.”

Dina menatapku nanar.

“Saat kita tidak punya harta aku tidak berpaling. Tuhan memberi kita harta, perlahan kau mulai goyah, bukannya berbagi dengan orang tak punya tapi kau bagi di belakangku dengan gadis lain. Saat kau tak punya jabatan aku setia menemani, tidak mengeluh sedikit pun, tapi kau langsung berbeda. Jabatan membuat kau malu berdampingan denganku. Saat menikah kau janji setia, tapi saat kau memiliki harta dan tahta, kau lupa, mulai tergoda wanita lain.”

Semua kata-kata Dina tak bisa kubantah sama sekali.

“Untuk ujian wanita ini, aku tidak sanggup, aku tidak bisa berbagi. Kau mengkhianati kepercayaanku. Sekarang, hadapilah semua akibat dari perbuatanmu, Mas. Malam ini, aku tidur sama Ratih. Besok pagi, katakan keputusan kita pada anak-anak.”

Dina bangkit, perlahan melangkah pergi, tertatih rapuh menjauhiku. Meninggalkan aku terpuruk dalam penyesalan begitu dalam. Malam ini, akulah yang terkejut. Keisenganku mencoba bertualang, menghancurkan biduk rumah tanggaku dalam sekejap.

“Maaf ….”

Bali, 28 Maret 2020

rumahmediagrup/Ketut Eka Kanatam