Kekar Mentari Pagi

Pagi yang sunyi,
sejuknya membungkus selimut kabut
Burung burung pun masih enggan menggepakkan sayapnya untuk meninggalkan sarang, sang induk masih asik dalam buaian mimpi mimpi indah
Meski anak anaknya mencicit cicit lapar

Hingga matahari dengan angkuh berteriak

“Hai…bangun pemalas! Sinarku sudah kubentangkan seantero jagad, tapi mengapa mata kecilmu masih terpicing sebelah?
Apa kau ingin sejuknya tebal kabut ini kuhajar dengan panas sinarku yang lebih menyengat?”

Rasa jengah masih menyelimuti
Terbukalah tingkap tingkap jendela mengundang cahaya mentari

“Ku pergi ya nak”
Ayah si burung elang berpamitan, seraya mencium kening anak anaknya tanda kasih sayang atas amanah yang diberikan.

Sejenak kemudian…
Terbang, melayang diudara, membelah langit dengan membentangkan sayapnya

Begitu gagah seolah mengabarkan pada dunia
Bahwa kejayaan peradapan mulia akan kembali pada titik keemasan semula..

Ku songsong pagi dengan senyum sebagai sedekah

Lelly Hapsari/Rumah Media