Keceriaan Masa Kecil Siti (1)

Siti adalah anak ke tujuh dari delapan  bersaudara. Mereka terdiri dari dua perempuan dan enam laki-laki. Keluarga Siti termasuk keluarga besar di desa. Zaman dahulu adalah hal biasa bila memiliki banyak anak. Bahkan ada istilah banyak anak banyak rejeki.

Siti terlahir sebagai perempuan berdarah batak meskipun namanya terkesan seperti orang jawa. Bapak dan mamaknya asli batak.

Mereka tinggal di desa yang sangat jauh jaraknya dari kota. Pemandangan hijaunya padi yang terhampar luas mengelilingi desa tersebut semakin mempertegas keberadaan desa yang sesungguhnya.

Bapak dan mamak Siti adalah petani. Mereka memiliki sawah yang tidak terlalu luas namun cukup untuk menghasilkan makanan bagi anak-anaknya. Biasanya di sawah ditanam padi, setelah panen padi, sawah diisi air untuk memelihara ikan mas. Demikian diulang seterusnya hingga sekarang.

Sebagian hasil panen padi dijual dan sebagian disimpan dilumbung sebagai persediaan makanan pokok hingga panen selanjutnya.

Setiap pulang sekolah, Siti dan saudara-saudaranya berangkat ke sawah untuk membantu orangtua mereka. Anak lelaki biasanya disuruh untuk mencangkul rumput di pematang sawah. Sedangkan yang perempuan mencabut rumput yang tumbuh diantara tanaman padi sekaligus mencari keong yang mengganggu pertumbuhan padi.

Suatu hari, mamak mencari singkong  siap panen untuk dibakar. Mamak tidak pernah memberikan uang jajan kepada anak-anaknya. Jajanan sederhana yang diolah dari singkong atau ubi sudah cukup istimewa bagi keluarga tersebut.

Aroma singkong bakar yang menggoda membuat Siti ingin segera menyantapnya. Apalagi sejak siang hingga sore ia berada didalam lumpur sawah yang membuatnya semakin kelaparan.

‘Siti, Ana, ayo kesini. Singkongnya sudah matang,’ teriak mamak yang berdiri didepan gubuk.

Siti dan Ana bergegas menuju gubuk. Mereka berlari di pematang sawah hingga sesekali hampir terjatuh karena licinnya rerumputan.

Setibanya di gubuk, saudara-saudara mereka sudah duduk melingkar menghadap tungku pembakaran singkong. Menikmati singkong bakar dan sesekali menggigit cabai rawit disambut angin sepoi-sepoi membuat nikmatnya tak bisa dibandingkan dengan apapun.

Meski sangat sederhana, keceriaan setiap anggota keluarga terpancar dari tawa mereka.