Keceriaan Masa Kecil Siti (2)

Sekitar jam enam sore, Siti dan seluruh anggota keluarga bersiap-siap pulang ke rumah. Masing-masing  memikul segala sesuatu yang bermanfaat untuk dibawa pulang. Ada yang membawa kayu, daun singkong, singkong, daun pisang, pisang, dan lain-lain.

Kehidupan di desa sangatlah sederhana. Pada umumnya memasak hanya menggunakan tungku kayu dan sangatlah mudah menemukan kayu di kebun atau di sawah. Kayu yang didapat biasanya masih basah sehingga harus dijemur beberapa saat baru bisa digunakan.

Setelah sampai di rumah, masing-masing mengambil peran seperti kebiasaan setiap hari. Kakak Siti membantu mamak memasak di dapur dan abang-abangnya membantu Siti merapikan dan mengikat daun singkong menjadi beberapa bagian untuk dijual.

Hasil dari penjualan daun singkong cukup untuk membeli ikan asin sebagai lauk pauk. Keluarga Siti hampir tidak pernah makan daging atau ikan laut karena harganya sangat mahal dan harus ke kota untuk membelinya. Sementara mamak atau bapak jarang sekali pergi ke kota.

Setelah semuanya mandi dan makan bersama, barulah Siti dan saudara-saudaranya mengerjakan PR. Meski badan mereka terasa sangat lelah dan mata mulai mengantuk, PR haruslah dikerjakan. Karena guru akan marah dan menghukum siswa yang tidak mengerjakan PR.

Namun, Siti menyadari bahwa ini adalah awal dari perjuangannya. Siti masih duduk di Sekolah Dasar dan cita-citanya untuk menjadi guru masih sangat jauh. Dia gadis desa yang tak pernah mengeluh. Dia berpikir bahwa perjuangan orangtuanya untuk menyekolahkan mereka membutuhkan pengorbanan yang jauh lebih keras.

Meski demikian, prestasi Siti tidak pernah membuat orangtuanya kecewa. Dia selalu berusaha membuat orangtuanya bangga dengan prestasi yang baik di sekolah.

Siti selalu menjadi teladan bagi anak-anak seusianya di desa. Para orangtua disana seringkali membanding-bandingkan anak mereka dengan Siti. Kadang Siti merasa malu sendiri karena dia merasa apa yang dilakukannya selama ini biasa-biasa saja.

Memang sepulang sekolah, teman-teman Siti lebih memilih untuk bermain air di sungai dekat desa. Hal itu merupakan suatu godaan yang mesti ditolak Siti. Dia harus mengurungkan keinginannya untuk bermain bersama teman-teman demi membantu orangtuanya.