Katamu Semanis Racun

Katamu Semanis Racun

Pernahkah kamu mendengar ada seseorang yang berkata menyudutkanmu? Atau saat kamu melakukan sebuah kesalahan walaupun tanpa sengaja seolah-olah kamulah penyebab runtuhnya dunia.

Ataukah kamu sendiri yang pernah melakukannya kepada orang lain. Berkata yang menurut kita biasa saja tapi menurut orang lain sangat menyakitkan.

Hati-hati juga untuk kamu yang sering ceplas ceplos atau celetak celetuk. Sebaiknya sebelum mengucapkan sesuatu pikirkanlah terlebih dahulu. Akankah ucapan kita berdampak positif atau berdampak negatif?

Memang, lidah tak bertulang, tapi tanpa sadar kadang lebih tajam daripada pedang. Bisa jadi tujuan awalnya hanya untuk bercanda, namun lama-lama jadi menghina atau istilah kerennya body shamming.

Tanpa terasa apa yang kita ucapkan ternyata lebih ngilu dari sayatan sembilu. Jangan sampai mulutmu menjadi semanis racun. Terlihat menggiurkan tapi ternyata mematikan.

Jika tak sanggup berkata baik, diamlah. Sebagaimana yang diceritakan dalam sebuah hadis.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Yuk, bersama-sama menjaga lisan kita agar saat dia mengeluarkan sesuatu tidak menimbulkan rasa sakit di hati orang lain.

Luka di badan akan cepat sembuhnya karena tubuh akan segera meregenerasi kembali selnya. Namun, luka di hati akibat sebuah ucapan tidak akan mudah terlupakan. Bisa jadi orang tersebut memaafkan, namun percaya deh, dia tidak akan melupakan begitu saja.

So, mulai detik ini, biasakan gurindam “fikir dahulu sebelum berkata, supaya terelak silang sengketa”.