Kata Nenek (Fiksi Mini ke-1)

Oleh : Uty Agusriati

Sumber gambar : Pinterest, pngtree

Setiap bulan Ramadan tiba, aku selalu diminta oleh Emak menemani nenek di rumahnya. Aku sih oke-oke saja karena nenek jago bercerita dan aku menyukai cara nenek dalam bercerita. Intonasinya berubah-ubah sesuai karakter tokoh. Ekspresi nenek pun sangat patut diacungi jempol. Nenek tidak canggung untuk berkacak pinggang jika tokohnya marah…nenek pun ikut menendang jika tokohnya marah..pokoknya nenek akan menjadi juara jika ada lomba bercerita..he he he

Terkadang cerita nenek tidak selesai karena aku keburu tidur atau sebaliknya, nenek yang lebih dahulu tertidur. Tapi besoknya pasti disambung lagi oleh nenek karena aku yang menagihnya.

Ada satu hal yang membuat aku penasaran, bahwa ternyata bukan aku saja yang senang menginap di rumah nenek, adik dan kakak ku juga senang jika diminta menemani nenek di rumah.

Tetapi siapapun pasti senang bersama nenek karena jatuh cinta dengan cerita-cerita pengantar tidurnya. Cuman yang jadi teka-teki aku selama ini adalah mengapa hanya di bulan Ramadhan saja saudara-saudaraku senang menginap di rumah nenek ?

Pernah aku menanyakan hal ini kepada nenek, tapi jawabannya kurang memuaskan. Begitu pula dengan emak. Bahkan jawabannya menambah pertanyaan baru lagi di kepalaku.dan akhirnya aku tidak menanyakan hal tersebut lagi kepada siapapun. Hingga pada suatu waktu….

“Wulan, kalau kamu tiba di rumah pura-pura saja kamu loyo biar dikira puasa.” Kulihat nenek menyodorkan tambahan makanan dan air minum kepada adikku Wulan. Wulan terlihat sangat lahap menyantap sisa makanan sahur tadi subuh. Aku hanya terhenyak menyaksikan pemandangan ini. Pertanyaan ku selama ini terjawab sudah. Mengapa Kakak dan adikku senang jika disuruh nginap di rumah nenek saat puasa.

Wulan memang baru berumur enam tahun, tapi orangtuaku sangat ketat dalam hal ibadah termasuk pembiasaan puasa. Katanya semua pembiasaan harus dimulai sejak kecil dan harus disiplin.

Tiba-tiba dari arah belakang ada yang membisiki.
” Fat, kamu pasti mengira kakak juga tidak puasa ya kalau di rumah nenek.”bisik kak Aisyah sambil  memberikan isyarat agar aku mengikutinya ke kamar.
“Nenek itu tidak pelit. Dia sering ngasih uang jajan setiap kakak pulang ke rumah.  Kamu kan tahu kalau kakak punya kebutuhan yang lebih, sementara emak jarang memberikan uang jajan tambahan.’ Kata Kak Aisyah sambil menyembunyikan genangan air mata dalam tundukan wajahnya.

Nenek memang tidak salah dalam hal ini. semua yang dilakukan semata-mata adalah bentuk kasih sayang nenek kepada cucunya. Nenek kadang tidak tega kalau melihat Wulan meringis menahan lapar. Nenek kurang setuju jika dipaksakan untuk berpuasa. Dilatih boleh saja tetapi belum bisa dipaksakan puasa setiap hari. Begitu kata nenek. Begitupun dengan Kak Aisyah yang diajar mandiri dan hemat dalam pengeluaran.

Aku hanya tersenyum jika mengingat kejadian ini.

nubarnulisbareng/utyagusriati