KATA MAAF DARI BAPAK YANG KUTUNGGU SEUMUR HIDUP

Jika ada seseorang yang punya pengalaman berharga atau kenangan manis yang menorehkan rasa bahagia di hati tentang ikatan batinnya dengan sosok seorang ayah atau bapak, maka saya termasuk diantara yang tidak memilikinya. Saya tidak punya kenangan sama sekali walau sekedar pernah berfoto berdua. Bahkan dalam rekaman ingatan pun saya tidak memiliki pengalaman perlakuan apapun, entah itu tentang pelukan, percakapan apalagi kegiatan bermain yang menyenangkan. Semuanya zonk di hati dan memori saya. Tak ada satupun selain saya punya memori raut wajah bapak seperti apa saat mengetahuinya setelah usia saya remaja.

Ya, saya memang pertama kali bertemu bapak saat usia 15 tahun. Ketika itu paman saya datang ke rumah mengabarkan bahwa bapak dalam keadaan sakit parah terkena luka bakar. Menempuh perjalanan cukup jauh saya berangkat ke tempat bapak saya yang saat itu berbeda kota dan sudah berkeluarga lagi. Tiba di tujuan, saya dipertemukan dengan satu sosok ringkih terbaring tak berdaya di lantai beralaskan kasur seadanya dengan beberapa lembar daun pisang menyelimuti luka luka bakar di tubuhnya.

Perih, mungkin begitulah andai saya menterjemahkan ketidakmengertian perasaan saya saat itu. Inikah bapak? Saya punya bapak tapi terpisah rumah dan tak pernah bertemu sama sekali? Tubuh yang sangat kurus dan wajah yang tak memiliki rupa yang jelas karena olesan salep untuk mengobati luka bakarnya sungguh pemandangan yang menyedihkan. Keadaan rumahnya yang sangat memprihatinkan sungguh jauh berbeda dengan keadaan rumah saya bersama ibu dan nenek kakek serta keluarga besar saya. Sungguh tidak menyangka seperti inilah kehidupan bapak yang tak pernah kukenal selama ini. Perjalanan menuju kampung di mana bapak tinggal pun sangat sulit saya hafal andai saya punya inisiatif ingin datang lagi sendiri.

Paman yang membawa saya ke tempat bapak waktu itu bilang “Ini bapakmu, doakan ya semoga panjang umur dan sehat kembali seperti semula”. Respon bapak saat itu tak banyak saya ingat. Namun dipastikan bahwa bapak tak banyak bicara, lebih tepatnya tak bisa menyambut atau merayakan pertemuan itu. Sepertinya memang kondisi bapak yang sedang sakit parah membuatnya tak bisa menunjukkan ekspresi yang sebenarnya. Saat sudah dewasa baru saya mengerti mungkin saya dipertemukan dengan bapak waktu itu karena ada kekhawatiran bapak tak lama lagi usianya. Andai bapak tak sakit, mungkin tak akan ada momen pertemuan ini. Ah entahlah. Kenyataannya pamanlah kemudian yang terlebih dahulu meninggal sedangkan bapak sembuh seperti sediakala.

Setelah peristiwa itu, sejak pulang dari tempat bapak, rasanya pikiran ini berkecamuk tak menentu. Saya ingat saya menyimpan amarah yang terbendung. Ya, saya menganggap bapak sangat salah telah meninggalkan saya dan tak pernah sama sekali dalam masa lima belas tahun itu berinisiatif menemui saya lebih dulu. Saya bertemu bapak karena saya lah yang menemuinya. Saya benci bapak. Saya bersumpah bapak harus memberi penjelasan dan harus meminta maaf pada saya. Walau waktu itu kondisi bapak terlihat miskin tapi saya tak kasihan padanya. Saya benar-benar merasa kecewa karena bapak tidak melakukan kewajibannya untuk menyayangi saya, mengasuh dan menjadi tempat bermanja saya seperti saya iri melihat sepupu sepupu saya bermain bersama bapaknya.

Paman dan bibi saya dari pihak ibu hidup begitu kaya raya dan harmonis. Punya foto keluarga utuh di dinding rumahnya masing masing. Saya benci tidak seperti mereka karena bapak tidak mau berada di samping saya menjadi teman hidup saya. Bapak bersalah dan harus minta maaf. Begitu terus bergaung dalam kemarahan saya.

Sesudah saya dewasa di masa kuliah, saya mencoba sering menemui bapak. Ternyata bapak sembuh dan bisa beraktivitas kembali. Bahkan tampaknya bapak lebih energik dan usaha bapak mengalami kemajuan hingga berhasil memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya. Bapak bisa saya temui ke tempat kerjanya. Namun entah kenapa tak pernah sekalipun bapak bercerita tentang penyebab kenapa bapak memilih bercerai dengan ibu lalu pergi dari kehidupan saya. Padahal saya sangat ingin tahu tapi tak berani bertanya karena bapak terlihat seperti selalu formal atau lebih tepatnya bersikap kaku jika ditemui.

Saya adalah anak bungsu perempuan satu-satunya sedangkan kakak saya laki-laki dua-duanya. Ah, saya marah kenapa disaat sepantasnya saya menjadi anak yang ditunggu-tunggu, apalagi saya anak perempuan yang layak mendapat perlindungan lebih banyak dari bapaknya, tapi tak pernah sebersitpun menggugah perasaan bapak untuk bahagia atas kehadiran saya. Sungguh mengenaskan nasib saya ditolak dan diabaikan bapak. Begitulah mental korban saya berkobar-kobar di pikiran bawah sadar saya.

Setelah saya menikah dan mendapat tempat bersandar dan berlindung yaitu sosok suami, kehidupan seakan berjalan di rel nya. Semua baik dan membahagiakan. Saya sudah lebih menerima kenyataan saya tidak bisa mengenal bapak sebagaimana harapan saya. Komunikasi saya dengan bapak tak bisa dipaksa harmonis. Jadi biar saja, mau akrab atau tidak, mau mengerti atau tidak biarlah dilalui apa adanya. Bahkan saya lupa kalau saya masih marah atau tidak ke bapak.

Hingga tiba saat wafatnya bapak di tahun 2017, akhirnya saya mendapati harapan saya tidak terwujud. Bapak meninggal dalam keadaan misteri yang tak terjawab. Saya pun melepaskan semua harapan. Saya memang sedih bapak tidak pernah meminta maaf sama saya sekalipun. Tapi saya yakin walau harapan itu tidak tercapai, justru inilah jawaban dari Allah sebenarnya, bahwa bapak tidak bersalah jadi tidak pernah harus minta maaf sama saya. Bapak selama ini telah benar meninggalkan saya dan saya tidak boleh marah lagi. Sudahlah, setidaknya kebenaran itu jelas terbukti atas kemulusan saya dalam menjalani masa pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Tak ada kendala yang berarti. Jika ayah dan ibu tak bercerai mungkin saya tak akan terdidik berjiwa mandiri tapi bisa jadi saya akan celaka. Wallahu a’lam.

Begitulah pada akhirnya saya lah yang minta maaf padanya saat beliau sudah menjadi jenazah. Saya minta maaf tidak memanfaatkan kesempatan mengenal bapak dengan berbuat baik pada beliau. Saya tidak berani memulai menjalin hubungan baik karena saya takut bapak tak suka. Jiwa kekanak-kanakan saya mengatakan seolah bapak tidak suka sama saya makanya meninggalkan saya. Kalau bapak suka dan sayang pasti akan takut kehilangan dan tak akan meninggalkan.

Andai saja dulu saya berpikir bahwa pasti ada masalah dengan bapak namun tidak sebaiknya saya tahu, maka mungkin saya akan berani memeluk atau menyapa duluan setiap saat kepada bapak. Andai saja dulu saya lebih bersikap dewasa dan tidak menyimpan dendam dan amarah mungkin saya lebih dahulu memperbaiki hubungan dan menciptakan bentuk hubungan dengan bapak yang sesuai impian saya sendiri.

Saya tak menyesali takdir pemberianNya. Sungguh ikhlas saya menerima kenyataan sepahit apapun hal yang sudah berlalu. Tak ada yang bisa diulang kecuali saya bisa memanfaatkan masa kini untuk selalu berdoa dari kejauhan untuk kehidupan baik bapak di alam akhirat.

Ya Allah….ampunilah dosa dosa bapak, hapuskan segala kekhilafannya, balaslah segala kebaikannya dan sampaikanlah bahwa saya memaafkannya sepenuh hati. Saya tak lagi menuntutnya untuk meminta maaf. Saya membebaskannya dari kewajiban itu seperti yang pernah saya sumpahkan. Berikan ketenangan bagi bapak di tidur panjangnya. Dan berikan pula ketenangan bagi hatiku di sepanjang sisa usiaku setelah bapak tiada. Aamiin …

Bandung, 4 Juni 2021

NubarNulisBareng/Lina Herlina