Kartini Menuntut Perempuan

Pernah baca buku habis gelap terbitlah terang?
Semoga demikian, karena menjadi tidak berarti bila kamu memperingati hari Kartini, namun tidak baca bukunya.

“Saya ingin berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri… yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia.” (Surat Kartini kepada Estella H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

Di atas adalah salah satu petikan surat Kartini dalam bukunya. yang terkenal itu. Buku yang mengungkap impian Kartini untuk menjadi seorang wanita manusia. Manusia wanita, yang mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama dalam segala hal.
Kartini dengan pemikirannya telah melompatkan impian yang sekarang, saat ini semua bisa kita wujudkan.

Lalu menurut kamu, apa yang akan dikatakan Kartini bila ia sampai dimasa ini? Akankah ia bersuka cita dan gembira melihat kemajuan yang bisa diraih wanita? Akankan lahir tawa dari bibir Kartini saat dia melihat para wanita Indonesia memiliki ilmu yang tinggi dan kecakapan luar biasa.
Akankah Kartini merasa ia tak sia-sia menuntut wanita berkesempatan untuk belajar:, agat berpengetahuan dan tidak direndahkan.

Menurutku Kartini akan menangis..
Ia akan menuntut kita semua. Para wanita Indonesia yang berilmu tinggi. Wanita Indonesia yang berkarir cemerlang. Wanita Indonesia yang memiliki pencapaian – pencapaian luar biasa.

Nah lho kok bisa?

Pastilah bisa.
Sudah baca cuplikan surat Kartini di awal tulisan ini bukan?

Nah mari kita renungkan.
Sudahkan kita menjadi wanita yang ada dalam impian Kartini itu?

Secara harfiah Kartini ingin kita wanita iIndonesia menjadi Perempuan..
Paham makna perempuan kan?
Yup
Secara etimologis, kata perempuan itu memiliki arti “empu, tuan, penyokong, sokong, puan, dan pengampu”. Namun faktanya, apa yang telah terjadi dengan negeri ini? Apa kabar kanak kanak dan remaja kita? Bagaimana generasi penerus kita? Dan lebih ironis lagi, apa yang terjadi dengan pasangan kita.?

Banyak hal menjadi tidak sesuai impian Kartini. Para wanita modern yang melangkah mudah untuk memiliki pengetahuan, lalu punya keahlian ternyata lupa bahwa dia perempuan.
Seorang pengampu, seorang penyokong, pun seorang tuan.
Wanita telah lupa kalau ia perempuan.

Mengapa wanita lupa ia adalah perempuan?

Sebab ia lebih banyak menjadi perongrong daripada penyokong. Hal ini bukan tanpa alasan. Suami-suami yang bekerja dan kemudian menjadi koruptor, bisa jadi mengambil jalan keluar itu karena rongrongan yang diterima.

Anak-anak yang menjadi lupa etika dan sopan santun, bisa jadi karena sang Ibu lupa ia adalah perempuan. Pengampu bagi anaknya. Jika dengan pengetahuannya ia lupa untuk mendidik dan mengarahkan anaknya, dan lebih sibuk dengab karirnya Kartini akan bangkit dari kubur dan marah pada kita semua.

Luhur.
Pemikiran Kartini yang tertuang dalam suratnya adalah pemikiran yang luhur. Lahir dari keyakinan yang tinggi bahwa semua manusia sederjat.

Perempuan bisa melakukan apa saja bila diberi kesempatan yang sama dengan pria. Namun bukan berarti perempuan melupakan kekuatan utamanya sebagai empu yang mendorong sekitarnya menjadi lebih baik. Yang mengampu lingkungannya dengan nilai-nilai kehidupan dan yang menyokong orang-orang untuk tetap lutus dalam garis impian

Maka mari kita merenung kembali. Sudahkah kita menjadi perempuan impian Kartini? Mari introspeksi diri, sepanjang rentang usia, kebermanfaatan apa yang telah kita sebar untuk sesama.
Atau jika itu terlalu mengawang-awang, sudahkah kita menjadi perempuan? Menjadi empu bagi semua, dalam skala kecil di rumaj saja, atau untuk diri sendiri dulu.

Selamat memeringati Hari Kartini 2020

Nulis bareng/ Maulina Fahmilita