KARENA KU SANGGUP

“Bunda, saya Sri. Izinkan saya bicara sebentar.”

Seorang perempuan yang bernama Sri itu memaksaku untuk duduk. Kegiatan Seminar sudah selesai. Para peserta mulai meninggalkan ruangan satu persatu. Terlihat beberapa tukang sedang membereskan gedung.

“Ibu siapa?” tanyaku. “Apa saya mengenal Ibu?”
“Bunda, maaf. Pastinya bunda tidak mengenal saya, karena ini pertama kalinya kita bertemu, namun saya mengenal suami Bunda.”

Dug!!! Sesuatu serasa menimpa jantungku begitu keras. Aku berusaha mengendalikan rasaku. Aku mulai menduga tentang apa yang akan disampaikan wanita ini.

“Kami sudah lama saling kenal, mulanya biasa saja. Namun lama-lama ada sesuatu diantara kami. Bunda pasti mengerti sesuatu itu apa.”

“Maaf saya tidak mengerti. Coba jelaskan.”

“Kami, pacaran, dan berencana untuk menikah!”

Duarrrr!!! petir menyambar kesadaranku. Emosi meluap. Degup jantung berdetak kencang. Aku menahan tanganku yang bergetar. Kukatup mulutku kencang. Aku tak lagi melihat wanita ini, yang ada seribu pertanyaan mengobrak abrik perasaanku. Mengapa Mas Bram melakukan ini padaku? Berarti selama ini dia telah mengkhianatiku. Dia menyimpan wanita lain dihatinya selain aku. Lalu dimana rayu manis yang selama ini dia ungkap padaku. Kemanakah menguapnya kata-kata mesra yang selalu dia berikan di setiap bangun tidurku?

“Maafkan Aku!” Mas Bram menunduk.

“Hanya itu? Apa kurangnya aku? Apa salahku? Apa selama ini pelayananku kurang? Apa ada sifatku yang membuatmu tak betah hidup denganku sehingga kamu membuka hati untuk wanita lain?” air mata tak mampu kubendung, dalam isak kehancuran, kucurahkan kecewaku.
“Kamu tidak bersalah, kamu juga tidak ada kekurangan. Kamu sudah menjadi istri yang baik dan menjadi ibu yang baik buat anak-anak.”
“Lalu, mengapa Mas lakukan ini padaku?”

Mas Bram diam.

Kutinggalkan dia dengan segala kecewaku.

Tak bisa kuungkapkan bagaimana hancurnya aku. Pernikahan yang sudah kami jalani selama 18 tahun kini harus berakhir disini.

Dalam kalapku kuambil pisau cukur yang ada di meja rias ku. Tak ada lagi jalan selain mengakhiri hidupku. Untuk apa lagi aku hidup jika harus berbagi cinta dengan wanita lain.

Penghianatan ini membuatku sesak. Ku tatap tanganku. Bersiap menggoreskan pisau itu di urat nadi tanganku.

“Bunda …” sambil kucek-kucek mata, bocah kecilku bangun. Dia mendekat. Dia menatapku lama mungkin dalam hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi denganku. Ah sungguh matanya membuatku lemah.

Dia memelukku.

“Bunda menangis?” tanyanya sambil mengusap kedua mataku.

“Enggak Nak, ini tadi mata bunda kena debu. Tidur lagi yuk!”

Dia memintaku untuk memeluknya dan menemani tidurnya.

“Astaghfirullahal adzim. Ya Allah maafkan aku!” apa yang terjadi jika aku mati. Sudah pasti neraka menanti dan bagaimana dengan anak-anakku?

“Ya Allah. Maafkan aku. Kini aku sadar semua ini kehendak-Mu. Dan tidaklah Kau memberikan ujian kepada seorang hamba kecuali sesuai kemampuannya.”

“Ya Allah, beri hamba kekuatan untuk menghadapi semua ujian ini.”

Mentari pagi bersinar cerah, walaupun nampak sama setiap hari, namun kali ini aku harus beda memaknai. Aku harus lebih bersyukur dan instrospeksi diri. Tidaklah kejadian buruk menimpa kecuali mungkin aku pernah berbuat buruk di masa lalu.

“Ya Allah bimbinglah hamba-Mu ini agar senantiasa berada dalam Ridha-Mu.”

Kuangkat bakul makanan dibelakang motor, beberapa potong baju dalam keresek hitam ku taruh di depan. Demi untuk menghidupi ke 3 putraku, aku harus bekerja sampingan selain tugas rutinku di kantor. Aku harus melawan malu menjajakan makanan kecil dan baju-baju di kantor ku. Walau dapat keuntungan tidak seberapa, yang penting halal dan bisa menambah untuk bekal anak setiap hari.

Selain itu dengan diajak sibuk mungkin aku bisa sedikit melupakan sakit hatiku. Aku tak ingin pikiranku sibuk dengan memikirkan kebencian dan sakit hati telah dikhianati. sempat terbersit untuk balas dendam. Secara aku masih muda, seksi dan sekali lirik aku yakin banyak lelaki yang tertarik. Tapi tidak, aku tak ingin melakukannya. Aku sudah memberikan urusanku pada Yang Maha Kuasa. Aku sudah menerima ini sebagai jalanku yang harus aku hadapi.

Hari ini aku hanya ada untuk masa depanku, masa depan anak-anakku. Hidup penuh perjuangan. Perjuangkan apa yang layak diperjuangkan. Perjuangkan apa yang akan membawamu pada kebahagiaan di kehidupan kekal nanti.

Kita mampu kalau kita berpikir kita mampu. Senantiasa berbuat baik, berteman dengan yang baik, insyaAllah yang datang pun akan baik.