Kamu, sudahkah waktumu?

Setiap kita memiliki waktu yang berbeda, sebab begitulah sunatullahnya. Meski terlahir di momen yang sama, bahkan dari Ibu yang sama, pada prosesnya waktu-waktu yang dijalani menjadi milik masing-masing pribadi.

Pernah melihat sebuah pertandingan lari? Setiap orang berada di lintasannya masing-masing. Lalu aba-aba sang juri akan menggerakan semua diwaktu yang sama. Apakah setiap orang mencapai titik finish yang sama? Pasti tidak. Apakah dalam lintasan mereka mengalami hal yang sama? Pasti tidak.

Maka begitulah sesungguhnya proses yang kita alami. Pada usia yang sama, momen yang kita miliki berbeda-beda. Ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya anak, ada yang sukses dalam karir, ada yang masih mencoba kerja di sini dan di sana. Ada yang sedang melakukan penjajagan dengan sang pujaan, bahkan ada juga yang menikmati kesendirian.

Tak mengapa, sebab begitulah masanya.

Maka jangan selalu bertanya kapan menikah kepada mereka yang belum menikah, hanya karena kebanyakan yang lainnya sudah menikah. Tahan diri untuk melontarkan kok belum punya anak, saat pasangan yang lain sudah memilikinya. Berhenti mengajukan pertanyaan kok karirnya masih begitu-begitu aja, jika mempunyai pembanding rekan yang lain sudah lebih sukses. Hal-hal itu kurang elok.

Zona waktu kita masing-masing telah ditetapkanNya. Tidak ada yang terlambat, dan tidak ada yang duluan. Semua diwaktunya masing-masing.

Saya ingat, ketika adik nomor 2, nomor 3, nomor 4 telah menemukan jodohnya. Saat bunda menangis menanyakan pasangan yang saya memang tidak punya, lalu apa yang harus dikata.

Jika kapalnya sudah penuh dan memang harus berlayar, maka seharusnya berlayar saja. Begitulah. Jika mereka sudah bertemu dengan jodohnya dan sudah waktunya menikah, ya menikah saja. Bahwa ada konsep pamali bila kakak dilangkahi sang adik, itu hanya wujud kecemasan yang dibesar-besarkan saja. Toh pada waktunya sang kakak juga menemukan jodohnya.

Semua ada masanya. Setiap kita mengalami dengan cara yang berbeda, dan waktu yang tidak sama, namun semua pada waktunya.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita