kamar kosong

Pentigraf

KAMAR KOSONG

Sret! sret! sret! Klik!

Suarang Langkah kaki dan pintu terbuka terdengar lagi. Ini malam ke enam aku mendengar suara itu. Ku coba bangunkan Kak Mia, gagal. Dia terlalu asyik dengan mimpinya. Perlahan ku beranikan diri melangkah ke jendela. Mencoba mendengar dari celah bawah pintu. Terlihat bayangan hitam mendekat. Secepat kilat aku loncat ke tempat tidur, dan sembunyi di balik punggung Kak Mia.


Pagi tlah tiba. Ku ceritakan apa yang ku dengar semalam kepada Kak Mia. Aku berjanji bahwa yang aku dengar bukan hayalan. Aku minta Kak Mia untuk membuktikannya nanti malam. Seperti biasa, ibu sudah menyediakan sarapan buat kami. Namun kali ini ada yang berbeda, hidangan Ibu lebih satu. Tidak biasanya. Ibu yang sangat apik dengan masalah ekonomi tak pernah menyajikan makanan lebih dari jumlah anggota keluarga. Tak sabar menunggu malam tiba, rasanya waktu berlalu begitu lambat. Beberapa buku sudah habis ku lahap. Rasa penat melanda, aku bangkit menuju dapur. Kulihat ibu sedang menyetrika piyama ayah. Saat ku mendekat, ibu berkata bahwa ayah paling suka pake piyama itu. Aku hanya mampu memeluk ibu tanpa bisa berkata apa-apa.

Suara itu terdengar lagi. Malam ini aku dan Kak Mia memberanikan diri untuk keluar kamar. Ku lihat bayangan berjalan perlahan dalam remang lampu rumah. Menyisir pintu depan, dan jendela. Bayangan itu kembali dan berhenti di depan kamar. Hampir saja kami berteriak, ketika cahaya menyeruak dari pintu kamar yang terbuka dan menerangi wajah sosok itu. Ibu!!! lengkap dengan makanan dan baju piyama ayah ditangannya, beliau masuk ke kamar itu. Kamar mendiang ayah.