KALIMAT INDAH “MARI BERPIKIR POSITIF”

Ada satu fakta menarik bahwa secara teori manusia menyetujui ajakan berpikir positif, namun dalam praktek sangat tidak gampang melakukannya, apalagi disuruh konsisten hehehe…

Jadi, seolah-olah “Mari berpikir positif” hanya menjadi kata-kata mutiara saja. Kalimat motivasi yang ideal untuk didengarkan. Disetujui kebenarannya, namun sulit dipraktekkan.

Mengapa demikian? Sebab manusia memang lebih mudah berpikir negatif dibandingkan berpikir positif. Buktinya, berprasangka negatif bisa dilakukan secara refleks, sedangkan prasangka positif butuh berpikir secara sadar. Butuh waktu untuk berpikir dan menganalisa lebih dulu.

Karena pikiran negatif lebih mudah dan bisa dilakukan secara refleks, maka untuk mengubah seseorang menjadi pribadi yang positive thinking membutuhkan waktu, kerja keras dan pengulangan terus menerus. Dalam kata lain harus membangun habit atau kebiasaan, hingga berpikir positif yang awalnya membutuhkan pikiran sadar bisa dilakukan secara refleks.

Bagaimanakah cara membangun kebiasaan menuju berpikir positif? Salah satunya adalah membiasakan diri berbicara positif. Disadari atau tidak (seringnya sih tidak), manusia cenderung lebih suka memilih kata-kata negatif dibandingkan kata-kata positif.

Semoga jalanan ga macet”
“Jangan ada barang yang tertinggal”
“Jangan lupa makan”
“Semoga ga terlambat”
“Jangan malas”
“Hati-hati di jalan”

Masih banyak lagi contoh kalimat negatif yang sering kita gunakan, entah berapa kali kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari secara refleks.

Padahal, kalimat negatif akan direspon otak dengan respon negatif pula. Jadi bukannya hasilnya menjadi positif, malah terdorong menjadi negatif.

Semoga jalanan ga macet” eh malah kejebak macet.
Jangan ada barang yang tertinggal” entah mengapa ada saja yang tertinggal.
Jangan lupa makan” eh malah terlambat makan, dan seterusnya.

Saya sendiri sudah lama meninggalkan kata-kata negatif dan sekarang justru aneh jika menggunakannya (kata negatif sudah berubah dari refleks menjadi pikiran sadar).

Setelah membangun kebiasaan mengubah kata-kata negatif menjadi positif sejak enam tahun lalu, sekarang menjadi lebih mudah menggunakannya.

“Semoga jalanan lancar”
“Pastikan semua barang terbawa”
“Ingat makan, ya”
“Semoga sampai tepat waktu”
“Yang rajin ya”
“Semoga perjalanannya lancar”

Dengan sering menggunakan kata-kata positif, otomatis kita telah melatih otak kita untuk berpikir positif. Otak yang berpikir positif, merespon kejadian dengan positif.

Akibatnya, reaksi ucapan dan tindakannya menjadi positif. Tindakan positif membuahkan hasil positif. Kumpulan hasil positif akan membentuk nasib yang positif.

Semoga bermanfaat!

Renny Artanti
STIFIn Family & Business Trainer
Co Founder of Xcellence International Training