Kakek Siput dan Merpati Kecil

Kakek Siput dan Merpati Kecil

Suatu hari di salah satu kebun bunga, berkumpullah sekelompok burung merpati sedang mengadakan pesta.

Acara sangat meriah dan banyak mengundang tetangga. Mereka bergantian menikmati makanan yang disajikan. Sesekali mereka terbang saat ada kaki manusia mendekati mereka.

Semua kegiatan itu disaksikan oleh  seekor siput yang sedang beristirahat di bawah pohon beringin. Perjalanan yang sangat melelahkan membuat ia tertidur cukup lama. Namun, keasyikan tidurnya terganggu karena keramaian yang terjadi. Rupanya saat ia tertidur pulas para kawanan burung baru pada datang karena sebelumnya tempat itu sangat sepi.

Musik mulai terdengar dan para burung sudah mulai berdansa. Mata sayu siput memindai semua titik. Perhatiannya terhenti pada seekor anak burung yang terlihat murung. Binar keceriaan tak nampak dari wajahnya yang cantik.

Dari awal pesta dimulai, burung kecil itu menyendiri di pojok. Di saat yang lain sibuk menyantap hidangan yang tampak sangat, ia tak bergeming, matanya menyorotkan duka yang sangat mendalam. Hingar bingar pesta tak membuatnya bahagia.

Rasa penasaran bercampur iba memaksa siput mendekat ke arahnya.

“Halo Cantik, ….” sapa siput kepada si burung merpati kecil.

“Eh, kakek siput,” sekilas dia melirik sebelum kembali merenung.

” Kakek lihat kamu sedang sedih. Kakek mau lho dengerin cerita kamu.” ujar siput sambil melambaikan tangan di depan muka si merpati.

“Nama kamu siapa?” Siput mencoba mengambil perhatian si Merpati cantik.

“Mimi.” Jawaban yang sangat singkat terdengar dari mulut si merpati. Siput pun manggut-manggut.

“Kakek, pernah merasa kehilangan nggak?” Mimi balik bertanya.

“Kehilangan apa dulu? kehilangan uang atau barang berharga?” dialog pun berlanjut.

“Kehilangan orang-orang yang kita sayangi.” ungkap Mimi cepat.

“Oh, itu. kakek pernah kehilangan anak. Cucu kakek juga ada yang meninggal. istri kakek juga belum lama ini meninggal.” Bisik siput, matanya sedikit berkaca.

“Kakek nggak sedih?”

“Ya pasti sedih, tapi kita jangan terlalu berlebihan dalam sesuatu. Sedih sewajarnya, bahagia juga sewajarnya saja. Hidup ini terus berputar, ada kalanya kita di bawah dan merasakan kesedihan, ada juga waktunya kita di atas untuk merasakan kebahagiaan.” Kalimat bijak keluar dari mulut siput.

“Aku masih sedih banget, Kek.”

“Ibuku cantik banget, banyak manusia ingin menangkapnya. Kemarin ibu tertangkap manusia dan tak bisa melarikan diri lagi seperti sebelumnya.”

“Ayahku mati tertembak waktu mau menyelamatkan ibu. Manusia jahat, mereka membuat aku kehilangan ayah dan ibu.”

Rentetan cerita si merpati kecil diiringi isak tangis yang menyayat hati.

“Kakek bisa merasakan kesedihanmu, Nak. Sabar ya, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Ikhlaskan kepergian ayahmu dan banyak berdoa agar bisa bertemu kembali dengan ibumu.” Nasehat siput yang disimak dengan baik oleh merpati.

“Baiklah kakek, terima kasih nasehatmu. Akan kuingat selalu.” Ucap Mimi si merpati cantik.

Setelah itu mereka berdua menikmati hidangan yang tersedia. Perlahan, senyum di wajah Mimi muncul kembali.

Pesan moral: Bersabarlah saat ujian menimpa kita. Jangan bersedih dan patah semangat. Hentikan keluhan dengan doa agar hidup tetap terasa lapang.

_Wina Elfayyadh_