Kakak

Ketika adiknya sakit, kakak mengeluh sakit juga. Keluhannya tepat pas malam sebelum adiknya dirawat. Pukul 11 malam, bangun, lalu bilang sakit kepala dan suhu badannya panas. Makanya sebelum adiknya masuk ruang rawat di rumah sakit Al Islam Bandung, pikiran saya banyak bercabang. Saya dan suami berencana menginap di rumah sakit menunggu Fatih. Kakak yang sedang sakit dan dua anak lagi yang sedang PJJ di rumah siapa yang dampingi? Akhirnya saya menelpon orangtua saya. Saya minta agar mama bersedia menginap di rumah kami. Alhamdulillah mama bersedia menginap dan membawa serta ART nya. Saya jadi tenang karena kakak dan dua anak yang sedang PJJ ada yang menemani.

Setelah Fatih mendapat kamar rawat inap, suami pulang dan menginap di rumah. Karena kondisi kakak kian memburuk. Timbul mual dan muntah. Suhu badan naik turun. Suhu badan turun karena diberi paracetamol tapi empat jam kemudian naik lebih tinggi. Bahkan mencapai 40 derajat celcius. Karena tanggal 2 Juni hari libur, jadi kita berencana menemui dokter hari Rabu. Akhirnya masuk IGD setelah mendapat rujukan surat dari dokter anak yang juga merawat Fatih.

Di IGD, hasil NS1 kakak positif. Artinya kakak mengidap demam berdarah. Kakak juga di swab antigen. Hasilnya negatif. Saran dokter anak, dirawat inap, meskipun trombosit dan hematokritnya masih normal. Kemudian suami saya mencari kamar rawat inap. Kalau ada, ingin kamar rawat yang satu kamar bisa berdua, dengan adiknya. Ternyata sulit, karena kamar yang berdua penuh, harus nunggu, alias masuk daftar waiting list. Selama menunggu, kakak ditempatkan di igd. Akhirnya daripada nunggu di igd, yang dikunjungi banyak pasien dengan berbagai keluhan, maka suami memutuskan ambil ruangan yang ada saja. Satu tempat tidur dalam satu kamar.

Setelah masuk kamar, dokter anak berkunjung, meresepkan obat yang mirip dengan adiknya. Bedanya kalau kakak, obatnya diminum, bukan disuntikkan. Alhamdulillah bisa menelan obat dalam bentuk tablet. Nafsu makan belum ada. Keesokan harinya, suami mengeluh soal kamar mandi di ruang rawat kakak. Akses ke kamar mandi sulit. Apalagi kakak kalau ke kamar mandi harus bawa tiang infusan. Saya bingung harus bagaimana. Tapi ketika saya ngobrol dengan salah satu perawat, waktu perawat mengelap badan Fatih, ada satu kamar yang kosong dekat Fatih. Duh, saya bahagia sekali mendengarnya. Langsung saya lakukan prosedur pembookingan kamar tersebut. Saya hubungi suami saya. Suami saya harus mendatangi nurse station di tempat rawat kakak. Minta suster membooking kamar sebelah Fatih. Jadi kakak bisa pindah ruang rawat.

Setelah sukses pindah ruangan, saya berkunjung. Kangen …. Kondisinya memang memprihatinkan. Suhu badan masih panas di atas 38 derajat celcius, nafsu makan tidak ada, mual, mulut pahit dan kadang muntah. Kita pelukan.

Keesokan harinya ahli gizi mendatangi kamar kakak, menanyakan makanan kesukaan kakak. Makanan favoritnya adalah mie instan hehe. Karena belum boleh dikonsumsi selama sakit, makanya ahli gizi menggantinya dengan soun. Dihidangkan panas-panas dengan bola daging giling yang mirip bakso. Wah kakak suka sekali. Dia makan dengan lahap. Tapi tidak habis karena masih mual. Yah setidaknya ada makanan yang masuk, bukan hanya cairan infus. Siangnya dihidangkan goreng kentang dan sosis, beserta mayonaise dan saus tomat. Hmmm … benar-benar menggugah selera. Saya sampai protes ke kakak, kok punya kakak ada mayo nya. Punya adiknya tidak. Ternyata kakak minta mayo dan saus tomat ke bagian catering.

Di tengah rasa bahagia, kakak sudah mau mulai makan, saya ditelpon mama. Bahwa anak kedua kami, menangis. Dia nangis karena kangen kepada saya. Yang sudah hampir seminggu tidak bertemu dengannya. Ya … mau gimana lagi. Kalau saya menghilang dari pandangan Fatih, dia nangis dan berteriak “Mommy! Mommy!”

Anak kedua kami, selain kangen, juga tidak mau mengikuti kegiatan PJJ. Setelah saya video call, tangisnya reda. Lalu saya minta izin kepada wali kelasnya untuk tidak masuk PJJ di hari itu. Saya sedih. Saat mengalami hal ini. Saya dan suami sama-sama nungguin masing-masing anak yang sakit. Ternyata anak yang sehat merindukan kami juga. Alhamdulillah semua sudah terlewati. Semoga sakit yang diderita menjadi kifarat yang menggugurkan dosa kita.

Kakak diperbolehkan pulang di hari kelima dirawat di rumah sakit. Nilai trombositnya masih di bawah normal 105 ribu (normalnya 150 ribu – 400 rb). Hematokritnya 48 (normalnya untuk anak-anak sekitar 30-40). Dibolehkan pulang karena ada kenaikan trombosit. Sehari sebelumnya trombosit kakak 97 ribu. Sampai ke rumah, masih lemas. Dibekali obat mual dan lambung serta ibuprofen. Sehat-sehat seterusnya ya.