JONI DAN ALI DITILANG POLISI

JONI DAN ALI DITILANG POLISI


“Li, aku lupa bawa helm.” Kata Joni pada pada Ali teman seperjuangan di kampusnya sambil nyengir.

“Nggak apa-apa. Kita lewat jalan tikus saja. Please … Dompetku ketinggalan, nggak ada ongkos buat angkot nih.” Ali memelas agar bisa nebeng di motor Joni. Kebayang kalau jalan kaki, panasnya luar biasa minta dikasih es.

“Oke, tapi gantian kamu bawa motor ya.” Akhirnya Joni mengalah. Ia tak tega melihat wajah Ali yang sudah lapuk kayak kerupuk terkena kuah sayur.

Helm pun berpindah tempat, kini ia menutupi rambut ikalnya Ali. Tak lama motor mereka pun jalan dengan Joni di belakang. Mereka tampak asyik ngobrol, kadang sesekali terbahak, entah apa yang mereka bicarakan.

“Priiiiiiiiiittttt!”
Suara peluit memekakan telinga Joni saat mereka berhenti di lampu merah sebelum tikungan ke jalan Sudirman.

“Itu orang iseng banget ya, main prawat priwit aja, nggak tahu apa ini telinga terganggu.” Joni ngomel panjang lebar.

Lampu hijau menyala, Ali pun melajukan motornya dengan santai. Pluit masih terdengar nyaring, sekarang ditambah dengan suara klakson yang memekakan telinga.

“Etdah, tadi main priwit, sekarang main klakson. Apa nggak tahu ini jalan sedang sepi?” Ali bertanya pada Joni yang lagi tutup telinga

“Ciiiiitttttt  ….”
Ali terpaksa ngerem mendadak karena di depannya sebuah motor gede melintang menghalangi jalan. Seorang lelaki dengan seragam PDL khusus turun dengan gagahnya.

“Selamat siang. Kalian sudah melanggar peraturan. Kalian tahu kesalahan yang sudah dilakukan?” tanyanya tegas.

Ali gelagapan sambil merapatkan kaca helm. Melihat Ali ketakutan, Joni inisiatif menjawab, “Saya nggak tahu apa salah saya Pak, tiba-tiba saja dia mutusin saya?”

Pak Polisi semakin mendekat.
“Sekali lagi saya tanya, kalian tahu apa kesalahan yang telah dilakukan?” tanyanya lagi.

“Saya nggak tahu, Bapak. Makanya saya sedih banget. Pengen nangis di bawah shower yang mengalir deras. Tapi ….” sengaja Joni menggantung kalimatnya.

“Tapi apa?” hardik pak polisi.

“Tapi sayang, di rumah saya ada gayung yang udah potek gagangnya. hiks  … hiks ….” Jawaban Joni membuat pak polisi menggelengkan kepala.

“Kalian saya tilang!” serunya jengkel.

“Bapak nggak tahu saya anak siapa?” tanya Ali memberanikan diri menjawab.

“Saya nggak peduli kamu anak siapa. Mau anak pejabat, mau anak konglomerat, kalau salah ya tetap ditilang!” Suara berat pak polisi menyiutkan  nyali Ali dan Joni.

“Beneran Bapak nggak tahu saya anak siapa?” suara Ali mulai memelas.

“Walaupun Bapak kamu atasan saya, saya nggak peduli. Kamu tetap ditilang.” tegasnya lagi.

“Pak, bapak beneran nggak tahu teman saya ini anak siapa?” Joni menimpali. suaranya terdengar dramatis karena penekanan di beberapa tempat.

“Pokoknya kalian melanggar hukum, tetap harus ditilang.” terdengar gemeletuk giginya, muka pak Polisi mulai memerah dan tangan mengepal erat. Ia merasa dipermainkan oleh anak muda di depannya.

Ali melepas helm sambil berkata, “Bapak tega banget. saya kan anak Bapak, masa mau ditilang juga.”

Seketika backsound “Kumenangis” terdengar syahdu di telinga.

_Wina Elfayyadh_