JEJAK PANDEMI (PART 24)

JEJAK PANDEMI (PART 24)

Ah, tak terasa kebersamaan dengan challenge RNB sebentar lagi usai. Sedihnya hari ini adalah hari terakhir saya berbagi ilmu melalui Jejak Pandemi karena pekan besok full dengan tema yang sudah ditentukan.

But, it’s ok, insya Allah masih ada kesempatan lain untuk menebar jejak ilmu yang masih terserak.

Baiklah, setelah kemarin saya menuliskan tentang framing foto, kali ini saya akan menuliskan beberapa materi di kelas fotografi lanjutan yang saya ikuti.

Shallow Dof (depth of field) artinya adalah kedalaman ruang. Namun, dalam fotografi merupakan istilah khusus untuk menunjukkan ruang tertentu di dalam gambar yang tampak relatif tajam karena adanya perbedaan ketajaman (fokus). Kita berhasil mengambil foto dengan teknik ini jika adanya blur yang tampak samar di belakang objek.

Namun, hati-hati dengan bokeh (Ini istilah yang baru saya dengar setelah belajar fotografi). Bisa dikatakan boleh itu sama dengan bluring tingkat tinggi, namun menurut teh Yanthi yang disebut bokeh itu jika tampak adanya bulatan-bulatan efek cahaya matahari.

Hal itu muncul alami karena teknik foto, bukan karena editing. Kenapa bisa muncul bokeh? Efek bokeh terjadi karena pantulan cahaya matahari. Coba dipraktekkan deh, jika posisi memotret kita menantang matahari pasti akan muncul bulatan-bulatan di belakang POI utama.

Sebenarnya caranya mudah, kita tinggal mengarahkan kamera ke objek kemudian tap objek dan tahan beberapa saat hingga muncul blur di belakangnya. Kalau sudah muncul tinggal capture gambarnya.

Langkah terakhir editing, tidak harus berlebihan, natural saja karena foto dof sudah blur alami. Kalau saya edit sedikit di snapseed dengan memainkan tools “brush” dan menajamkan POI serta “tools tune image dan detail” untuk mengatur kembali tingkat pewarnaan dan tune foto. Dan hasilnya bisa dilihat dalam gambar berikut.

Oke, setelah mempelajari shallow dof, saya kemudian dikenalkan dengan Abandoned Fotografi. Kebanyakan kita kalau melihat barang usang atau berdebu merasa geli, kotor, dan malas bersentuhan dengan barang tersebut. Namun, bagi seorang fotografer, benda yang terabaikan, dibuang, berkarat, dan berdebu adalah barang yang menarik untuk dijadikan objek foto. Benda ini memiliki kesan vintage, klasik, dan mungkin sedikit horor.

Berhubung di rumah tidak ada barang yang bisa dijadikan objek, saya dikirim foto oleh teman yang kebetulan di rumahnya masih ada barang-barang yang sudah lawas. Saya tinggal edit sedikit agar kesan vintage-nya terasa. Aplikasi snapseed tetap menjadi andalan dengan menggunakan tools vintage dan menurunkan saturasi -10. Berikut adalah foto abandoned punya saya.

Next, saya lanjut dengan “Foreground“. Ini juga hal yang baru buat saya karena selama ini biasanya fokus mencari background yang ciamik. Tapi ternyata ada teknik lain yakni menyajikan foto dengan bagian depan ada properti yang terlihat blur.
Dengan kata lain, foreground adalah kebalikan dari background. Jika background menempatkan latar di belakang objek, maka foreground menempatkan latar berada di depan objek.

Caranya juga cukup mudah, jika pada shallow dof yang ditap adalah objek utama, nah dalam foreground ini yang ditap adalah bagian depan PPI. Namun ternyata tak semudah teori, saya sendiri merasa sedikit kesulitan mendapatkan blur di latar depan.

Materi selanjutnya adalah Urban Decay Fotografi yakni mengambil gambar bangunan tua yang sudah tak berpenghuni. Hanya hati-hati saja takut ada penampakan yang ikut nangkring karena beberapa teman saya di fotonya ikut menunjukkan diri. Ini tantangan banget buat saya yang “borangan” hehehe. Foto ini dibilang sukses jika mendapatkan kesan bangunan sudah tak terawat dan tampak seram. Itu saja ya, saya angkat tangan kalau sudah berbau beginian mah.

Selanjutnya adalah foto “hand in frame” yang merupakan salah satu gaya foto yang yang menampilkan objek berupa tangan. Dalam frame tersebut, tangan biasanya sedang melakukan suatu aktivitas. Sebaiknya latar belakang objek merupakan dinding polos, alas foto cerah, atau malah objek dark 100% agar tidak gagal fokus. Hal yang sederhana seperti foto yang saya ambil ini juga bisa masuk kategori sih. Intinya dalam foto itu nampak sebagian tangan yang sedang beraktivitas.

Trakhir adalah materi “Digital Imaging”. Dalam wikipedia.org dijelaskan bahwa digital imaging adalah penciptaan gambar digital, biasanya dari adegan fisik. Istilah ini sering dianggap menyiratkan atau meliputi pengolahan, kompresi, penyimpanan, percetakan dan menampilkan gambar tersebut. Metode yang paling umum adalah dengan fotografi digital dengan kamera digital, namun metode lain juga digunakan.

Secara mudahnya, digital imaging adalah menciptakan sebuah gambar dengan bantuan perangkat digital dan hanya bisa dilihat melalu perangkat digital. Tapi seru lho buatnya, apalagi setelah membuat hasilnya yang keren. Saya membuat tiga foto seperti di bawah ini. Proses yang paling rumit adalah foto burger. Harus banyak latihan karena masih belum luwes.

Demikian beberapa catatan materi di kelas fotografi terakhir yang saya ikuti. Semoga bermanfaat.

_Wina Elfayyadh_

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week3day7
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup