JEJAK PANDEMI (PART 19)

JEJAK PANDEMI (PART 19)
Refleksi Diri

Halo sahabat semuanya, sebelum saya lanjutkan catatan ilmu fotografinya, di tulisan kali ini saya ingin menuliskan refleksi sekaligus menjawab beberapa pertanyaan yang sempat mampir.

“Kenapa sih kamu mau belajar editing video dan fotografi? Kamu kan guru, fokus saja mendidik siswa!” Pertanyaan ini cukup menggelitik hati.

Teman dan sahabat semua, tahun 2021 sudah di depan mata. Tinggal hitungan hari untuk menyongsongnya. Apakah bekal kita sudah siap menghadapi tantangan yang sulit kita prediksi?

Oh No! Tentu saja kita harus punya tekad kuat dan semangat membaja karena mau tidak mau, siap tidak siap kita adalah generasi penerus, tonggak peradaban di masa yang akan datang. So, terus berjuang demi mencapai cita-cita apa pun rintangan yang menghadang.

Kembali ke pertanyaan tadi, kenapa saya semangat belajar edit video dan fotografi serta tetek bengeknya? Ya, salah satunya adalah menyiapkan diri untuk menjawab tantangan masa yang terus bergulir. Coba bayangkan, kalau kemampuan kita stagnan, mungkin saja kita akan tergilas roda zaman yang terus berputar. Jadi, jika kita ingin seiring seirama dengan mereka tentunya harus mempersiapkan juga skill yang dibutuhkan.

Saya dapat bocoran beberapa skill yang wajib dimiliki antara lain: jago buat content di media sosial (konten kreator) untuk mengimbangi tumbuh kembang media sosial dan internet. Kemudian digital marketing karena semakin banyak orang yang menggunakan fasilitas internet dan media sosial sebagai ajang jualan produk.

Kemampuan digital tak kalah penting juga karena sudah memasuki era-nya. Kemampuan digital yang dimaksud adalah edit video, desain konten, copywriting dan sejenisnya. Di masa ini kita sebenarnya kita pun diuntungkan karena tak harus berlelah-lelah menerjang ganasnya jalanan, cukup santai duduk di rumah saja sambil terus berkreasi.

Nah, ini salah satu alasan saya semangat belajar “ngulik” ilmu editing dan fotografi. Saya yakin tidak hanya sekadar hobi, namun pasti akan sangat bermanfaat dalam kehidupan nanti.

Ada juga yang bertanya, “Kenapa sih buang waktu ikut kelas ini itu padahal aktivitas kamu juga banyak?” Saya tak ingin banyak bicara untuk pertanyaan ini, biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Kemudian ada lagi yang bertanya, “Ngapain sih kamu ikut challenge nulis di mana-mana?”

Lha, ini saya yang ikut challenge kenapa Situ yang kebakaran jenggot. Suka-suka saya dong mau ikut challenge ini, challenge itu. Selama saya mampu mengatur waktu kenapa tidak? Justru, dengan mengikuti challenge saya ingin membuktikan bahwa visi dan misi hidup dalam keluarga kami bukan semata-mata imajinasi. Ada langkah dan upaya kongkrit untuk mewujudkannya. (Aduh maaf ya kalau ada kalimat yang kurang pas).

“Kamu mimpi ya, ingin menerbitkan buku best seller. Secara, kemampuan menulis kamu masih jauh dari para penulis terkenal.” Kalimat yang cukup menjatuhkan mental juga pernah mampir ke telinga.

Hallo!
Kalau kita ingin sukses, harus  berani bermimpi. Tapi jangan keasyikan mimpi karena kalau hanya mimpi mana mungkin bisa mencapai prestasi. Kalau sudah punya mimpi harus berani action, jangan terus “mager’ dan berimajinasi dari mimpi yang satu ke mimpi yang lain. Kalau punya mimpi tinggi tapi males action itu namanya bullshit!

Iya, saya memang termotivasi untuk bisa menerbitkan buku best seller.  Bukan karena alasan finansial atau ingin terkenal, tapi saya mempunyai keinginan apa yang saya tulis bisa diterima manfaatnya oleh masyarakat luas. Kemampuan menulis masih jauh dari sempurna, tak masalah. Masih banyak waktu untuk belajar dari para senior. Insya Allah dengan tekad membaja dan tak lelah berusaha serta dikuatkan dengan doa, mimpi-mimpi itu akan terwujud bahkan melebihi ekspektasi.

Sekian dari saya, mohon maaf tulisan ini mengandung curhat tersembunyi. 🙏

_Wina Elfayyadh_

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week1day6
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup