JEJAK PANDEMI (PART 12)

JEJAK PANDEMI (PART 12)
Catatan Saat Belajar Fotografi

Sebelum saya lanjutkan cerita yang kemarin, iklan dulu ah!

Teman-teman mungkin masih asing dengan beberapa istilah dalam dunia fotografi. Oke, saya bocorkan sedikit ya! Kalau mau tahu lebih banyak tanya sama yang lebih expert saja. Btw, ini hanya catatan kecil saya ya, kalau ada yang kurang tepat (khawatir saya salah nangkep atau kurang fokus saat belajar) silakan tuliskan pesan di kolom komentar.

Dalam fotografi ada istilah “focusing“, maksudnya adalah proses penajaman imaji pada bidang tertentu suatu obyek pemotretan. Ini adalah teknik paling dasar tetapi begitu penting karena jika ” focusing” tepat maka kita akan mendapatkan gambar yang tajam dan jelas.

Ada juga istilah “pengaturan speed”. Kita bisa menentukan kecepatan saat mengambil gambar sebuah objek dengan tinggi speed (high speed) atau rendah speed (low speed).

Oh iya, untuk mendapatkan hasil yang bagus, cahaya juga perlu diatur. Biasanya untuk mendapatkan gambar yang sesuai keadaan objek foto yang sebenarnya digunakan pencahayaan normal (normal eksposure). Saat kondisi cahaya dalam pemotretan terlalu keras, agar gambar lebih maksimal gunakan pencahayaan rendah (under eksposure) dan untuk mendapatkan gambar yang lebih terang daripada kondisi aslinya maka gunakan pencahayaan tinggi (over eksposure). 

Sebuah foto akan menarik jika foto tersebut terdapat dimensi ruang atau kesan kedalaman.  Untuk mendapatkan ini maka diafragma pada lensa kamera perlu diatur. Diafragma menentukan seberapa luas ruang tajam pada foto. Semakin kecil bukaan diafragma semakin luas ruang tajam yang bisa didapatkan dan semakin besar bukaan diafragma maka semakin sempit ruang tajam dalam foto.

Nah, untuk fotografer pemula atau yang masih belajar kayak saya, kadang masih terfokus pada hal-hal teknik seperti mengatur bukaan diafragma, pengaturan kecepatan, dan pengaturan jarak. Padahal kata coach, untuk membuat foto itu bagus juga harus memperhatikan pengaturan komposisi.
 
Secara sederhana komposisi diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar yang mencakup garis, bentuk, warna, tekstur, terang dan gelap. Dengan komposisi yang tepat, foto akan menjadi lebih menarik dan enak dilihat. Nah, yang paling utama dari aspek komposisi 
adalah menghasilkan visual impact (sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang anda inginkan untuk berekspresi dalam foto).

Tujuan mengatur komposisi dalam fotografi  adalah membangun “mood” suatu foto dan keseimbangan keseluruhan objek foto. Menyusun perwujudan ide menjadi sebuah penyusunan gambar yang baik sehingga terwujud sebuah kesatuan (unity) dalam karya. Selain itu, juga melatih kepekaan mata untuk menangkap berbagai unsur dan mengasah rasa estetik pemotret.

Dalam mengatur komposisi, ada beberapa kaidah yang perlu diperhatikan, antara lain:

1. Rule of Thirds (Sepertiga Bagian/Rumus Pertigaan). Pada aturan umum fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek pada sepertiga bagian bidang foto. 

2. Sudut Pemotretan (Angle of View)
Salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto adalah sudut pengambilan objek. Sudut 
pengambilan objek ini sangat ditentukan oleh tujuan pemotretan. Ada 5 teknik penggunaan sudut gambar yang saya pelajari.

Pertama, Bird Eye. Sudut pengambilan gambar ini, posisi objek di bawah/lebih rendah dari kita berdiri. Biasanya sudut 
pengambilan gambar ini digunakan untuk menunjukkan apa yang sedang dilakukan objek (HI), elemen apa saja yang ada di sekitar objek, dan pemberian kesan perbandingan antara overview (keseluruhan) lingkungan dengan POI (Point Of Interest).

Kedua, High Angle (pandangan tinggi) artinya, pemotret berada pada posisi yang lebih tinggi dari objek foto.

Ketiga, Eye Level. Sudut pengambilan gambar di mana objek dan kamera sejajar/sama seperti mata memandang. Biasanya digunakan untuk menghasilkan kesan menyeluruh dan merata terhadap background sebuah objek, menonjolkan sisi ekspresif dari sebuah objek (HI), dan biasanya sudut pemotretan ini juga dimaksudkan untuk memposisikan kamera sejajar dengan mata objek yang lebih rendah dari pada kita.

Keempat, Low Angle. Pemotretan dilakukan dari bawah. Objek lebih tinggi dari posisi kamera.  Cara ini digunakan untuk memotret arsitektur sebuah bangunan agar terkesan  kokoh, megah dan menjulang. Namun, dapat digunakan juga untuk 
pemotretan model agar terkesan elegan dan anggun.

Terakhir, Frog Eye. Sudut penglihatan sebatas mata katak. Pada posisi ini kamera berada di dasar bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak dihadapkan ke atas. Biasanya memotret seperti ini dilakukan dalam peperangan dan untuk memotret flora dan fauna.

3. Format : Landscape (horisontal) maupun Portrait (vertikal).

4.Dimensi. Meskipun foto bercerita dua dimensi, namun dapat dibuat terkesan memiliki kedalaman, seolah-olah dimensi ketiga. Unsur utama membentuk dimensi adalah jarak juga diperlukan adanya permainan ruang tajam, serta permainan gelap terang dan garis.

Ada lagi Gaes, beberapa istilah yang bagi saya ini masih asing, jadi dicatat dengan baik hehehe.

ISO : singkatan dari International Standart Organization, yaitu badan yang berwenang memberikan satuan untuk film di dunia fotografi.

AF : Auto Focus, kamera secara otomatis mencari titik fokus si obyek.

DIAPHRAGMA/diafragma, yaitu lubang masuknya cahaya ketika sedang memotret suatu obyek. Serta kadang lebih familiernya disebut Buka’an.

MACRO : saran untuk pemotretan jarak dekat. Fotografi makro akan menghasilkan rekaman objek(pada film) yang sama besar dengan objek aslinya (1:1), atau paling tidak setengah besar objek aslinya (1:2). Namun, lensa zoom yang mempunyai fasilitas menghasilkan rekaman objek seperempat besar benda aslinya (1:4) juga sudah bisa dikatakan makro.

BLITZ : Lampu kilat camera atau flashgun, yang gunannya untuk memberikan tambahan cahaya ketika memotret obyek di tempat yang kurang cahaya atau gelap.

FLASH : Lampu kilat, hampir sama dengan Blitz tadi yang bisa diatur-atur sesuai kebutuhan.

DSLR : Digital Single Lens Reflex, sama seperti SLR namun jika SLR biasa sebutan untuk yang masih memakai film negatif/klise

Noseroom: arah pandang atau ruang gerak objek dalam sebuah frame, bertujuan untuk memberikan ruang pandang sehingga terkesan bahwa objek memang sedang melihat sesuatu.

Foreground: segala sesuatu yang menjadi latar depan dari objek.

Background: segala sesuatu yang menjadi latar belakang objek.

Masih banyak lagi istilah lainnya, tapi saya udah mumet. Jadi yang mau serius belajar fotografi datang langsung ke ahlinya ya.

Semoga bermanfaat.

_Wina Elfayyadh_

#Nubar
#NulisBareng
#Level2
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week2day3
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup