JEJAK PANDEMI (Part 10)

JEJAK PANDEMI (Part 10)
Tak Ada yang Abadi

Gaes, catatan pelajaran mengedit video di kelas OGI (Omah Guru Kreatif) kemarin sudah tuntas ya. Saya lanjutkan catatan pelajaran yang lain.

Kali ini saya mau cerita saat saya belajar fotografi. Saya termasuk orang yang rada “males” berfoto. Jarang-jarang saya berswafoto kecuali kalau pas lagi mood oke.

Berawal dari melihat postingan-postingan salah satu wali santri, fotonya keren-keren. Ditambah lagi postingan teman saya yang cakep-cakep. Akhirnya saya wapri dia minta resep agar foto bisa ciamik kayak punyanya. Eh, terus ditawarin buat ikut kelas fotografi, biayanya murah banget, terus belajarnya online, ga perlu pake kamera, cukup pake android saja.

Awalnya ragu untuk ikut kelasnya. Maklum HP xiomi saya masih golongan jadul, kapasitas memori sudah full dan kualitas gambar juga tidak memadai. Namun, Allah sepertinya memberikan petunjuk untuk segera menangkap ilmu ini dan saya yakin ini adalah keterampilan yang harus dimiliki, apa lagi di zaman serba digital seperti saat ini.

Suatu hari saat saya sedang asyik dengan pekerjaan di laptop, datanglah seseorang yang memberikan kami nasi padang dalam sebuah kotak. Si kotak ini disimpan di meja tamu asrama sementara saya bekerja di meja front office yang berjarak sekitar 100 meter dari meja tersebut.

Nah, saat itu suasana hening banget. Saya semakin fokus dengan pekerjaan karena merasa “mumpung tidak ada gangguan”. Saking fokusnya, emak lupa deh sama krucil alias anak bontot saya yang masih berusia 17 bulan yang biasanya berisik, ga rela kalau uminya sibuk dengan kerjaan dan mengabaikan dia. Ada saja yang dia lakukan tarik jilbablah, tarik bajulah, lempar benda-benda sekitar saya, teriak-teriak heboh, atau nangis kalau kelamaan saya cuekin.

Karena suasana kondusif, pekerjaan cepat beresnya. Alhamdulillah. Begitu selesai baru sadar si Bontot tak ada di samping. Feeling mulai berkata “ada something nih”. Buru-buru saya cari keberadaannya dan eng … ing… eng …

Dia berada di pojok ruangan Gaes, mukanya merah, mulutnya berdesis kepedesan (hebatnya dia kalau kepedesan ga nangis haha), tangan kanannya sibuk dengan nasi padang yang ada di kotak dan tangan kirinya memegang benda pipih bermerk Xiomi dalam kondisi sudah bermandikan kuah gulai dan bumbu rendang. Seketika backsound “Ku Menangis” berputar berbarengan dengan tangisan tersembunyi dalam hatiku.¬†Ah, mau marah juga tak ada gunanya. Apalagi wajah polosnya yang imut membuat saya keep semua perasaan yang … Ah, saya sulit menjelaskannya, yang jelas nano-nano deh rasanya.

Sejak saat itu HP yang menemani saya selama hampir 4 tahun mati suri hingga akhirnya mati total. Akhirnya dia pergi tanpa say goodbye terlebih dulu dan yang membuat sedihnya pake banget itu karena semua data di HP otomatis tidak bisa diselamatkan dan saya belum sempat save data. Pelajaran berharga banget nih, harus rajin back up data penting dari HP ke device lain atau ke cloud storage.

Gara-gara HP nya “wasalam”, mau tidak mau saya harus beli penggantinya. Namun, karena pandemi kami masih ragu untuk keluar rumah. Akhirnya mencoba ikut saran suami beli HP online berdasarkan rekomendasi teman (beliau sudah 5x belanja alat elektronik termasuk HP) secara online dan aman. Penjualnya amanah dan harga relatif agak miring. Bismillah saya taati suami dan memilih barang yang saya inginkan.

Ini nekat banget sebenarnya apalagi sebelumnya pernah tertipu belanja online. Mau beli stroller buat si bontot tapi ujungnya uang melayang barang tak datang. Tapi kata suami selama belanja online-nya di online shop terpercaya, terus saya lihat testimoni dan review-nya juga baik, jadi bismillah saya belanja di situ walaupun hati sudah disiapkan jika uang harus melayang kembali, apalagi nominalnya hampir 8x lipat dari nominal waktu kena tipu.

Alhamdulillah hanya jeda 5 hari sejak pesan, barang yang ditunggu-tunggu datang dengan selamat dalam kondisi mulus, tersegel, packing-nya rapi dan aman. Wallahu ‘alam apakah kualitas barangnya terjamin atau nggak karena saya kurang faham masalah tersebut. Berharap mudah-mudahan HP-nya awet saja.

By the way, sebenarnya sudah ada rencana untuk beli HP baru dari jauh-jauh hari, jadi selalu menyisihkan beberapa rupiah khusus buat itu. Ga nyangka saja waktunya lebih cepat dari yang direncanakan. Tapi saya yakin, semua sudah diatur sebaik-baiknya oleh Allah Swt, sutradara terbaik dalam kehidupan ini.

Berbekal android baru, saya daftar kelas fotografi di kelas “Moto Teh Ina”, tapi tangan udah pegel nih nulisnya, cerita tentang asyiknya belajar fotografi di tulisan berikutnya aja ya. Pokoknya jangan lewatkan keseruan saya belajar di sana.

Bogor, 7 November 2020
_Wina Elfayyadh_

#Nubar
#NulisBareng
#Level2
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week1day4
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup