JEJAK PANDEMI (2)

Jejak Pandemi (2)

Jika kita berkunjung ke suatu tempat, maka jejak langkah kita akan tersisa di sana, walaupun tak kasat mata. Dalam ingatan kita pun akan tersimpan sebuah memori bahwa kita pernah mengunjungi tempat tersebut. Suatu saat jika kita sengaja atau tak sengaja melewati tempat itu, otomatis otak akan me-recall kenangan manis berkaitan dengan tempat tersebut.

Tergantung kita mau menyimpan kenangan manis atau kenangan yang kurang menyenangkan. Termasuk dalam pandemi ini, saya yakin semua orang punya jejaknya masing-masing. Semua orang berlomba menyimpan jejak-jejak kebaikan yang akan terkenang sepanjang masa dan akan menjadi cerita buat anak cucu kelak.

Nah, tulisan ini adalah salah satu cara saya merapikan file si jejak tersebut agar jejak itu tersusun rapi dalam folder otak saya sehingga nanti bisa dengan mudah recall kembali dan saat membutuhkan bisa search dengan mudah karena jejak tak kasat mata tervisualisasi dengan tulisan.

Di awal munculnya pandemi, saya masih bersikap biasa karena belum kebayang betapa dahsyatnya virus ini. Namun, saat korban semakin banyak seiring dengan pemberitaan yang makin semarak, akhirnya tertanam dalam otak saya bahwa ini wabah yang serius dan harus disikapi dengan serius juga.

Jangan tanya perasaan saya saat itu. Kayak permen nano-nano, ramai rasanya hehehe. Ada gelisah, takut, cemas, khawatir, sedih, galau, dan emosi-emosi negatif lainnya. Apalagi saat semua siswa dipulangkan, semakin terasalah kesepian melanda. Kebayangkan hidup di boarding, biasa ramai dengan lantunan Alquran yang bersahutan hampir dari setiap sudut ruangan bergantian dengan suara ustaz/ah yang mengajar dan candaan khas ala santri.

Tiba-tiba semuanya terhenti. Terasa sekali sepi sunyi apalagi di malam hari. Hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali suara kodok di danau. Ah, semuanya terasa beda. Baru sehari mereka dipulangkan sudah ada rindu yang menyesak di dada.

Di saat yang sama terdengar kabar dari kampung halaman tercinta bahwa nenek sakitnya sudah cukup berat. Berharap semua anak cucu berkumpul sebelum ajal menjemputnya. Oleh karena itu, tanpa ada persiapan matang kami segera pulang, baju yang dibawa pun hanya cukup untuk satu pekan.

Sampai di kampung halaman, kami menjadi orang dalam pantauan mengingat Jabodetabek sudah termasuk kategori zona merah. Sungguh, merasa terasing di kampung sendiri rasanya sangat tidak enak. Tapi, demi keamanan dan kenyamanan bersama, kami patuhi karantina 14 hari, benar-benar hanya di rumah tak kemana-mana.

Untuk membunuh kebosanan, saya fokus mengerjakan projek menulis antologi NuBar di samping ikut program karantina tahfiz Alquran. Untuk menghafal butuh konsentrasi tinggi. Dari situ saya belajar memenej waktu dengan sebaik-baiknya. Ada waktu khusus untuk mengerjakan projek setelah itu baru fokus menghafal dan setor hafalan.

Alhamdulillah sejak Maret hingga saat ini, beberapa judul tuntas disetorkan ke Mbak Rhea (Manajer Area Jawa Barat), antara lain: Inspirasi Berharga dari Para Hafiz Muda (sebagai PJ), Stop Being Yourself (sebagai PJ), Legenda Rakyat (event spesial NuBar), Jelajah Museum Indonesia, Ensiklopedia 21 Hewan Dalam Alquran, 21 Cerita Fabel penumbuh Karakter Baik, Ada Cerita di Balik Corona, Rezeki Yang (Tak) Tertukar, dan Kisah Indah di Bangku Kuliah Jilid 1. Insya Allah masih berlanjut beberapa judul yang masih on progress (semoga dimudahkan dan dilancarkan semuanya).

Bagaimana dengan program karantina Quran? Saya ceritakan next story ya!

#Nubar
#NulisBareng
#Level1
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week 1 day 2
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup