Jejak Pandemi (1)

Jejak Pandemi (1)

Pandemi datang tanpa diduga dan tanpa aba-aba. Dulu saat membaca berita kalau wabah ini bermula di Wuhan karena kebiasaan warga tersebut makan daging kelelawar, tak terlintas akan tiba juga ke Indonesia. Namun kenyataan menampar pemikiran kemarin, ternyata mereka mampir juga, menjadi tamu yang tak diundang dan tak mau pulang hingga sekarang.

Sungguh, awalnya saya sedikit kecewa dengan kurang sigapnya pemerintah kita menanggapi wabah ini. Terkesan santai dan menganggap enteng, terbukti saat negara lain sibuk me-lock down negaranya, Indonesia malah menerima tamu dari negara asal wabah itu. Setelah dinyatakan ada yang positif, barulah “kelimpungan” menanganinya.

Tentu kita tidak lupa dengan berbagai berita yang mengabarkan jika pemerintah Provinsi Sumatera Barat menerima 150 turis asal Tiongkok pada Minggu, 26 Januari 2020. Bahkan para turis tersebut disambut meriah bak tamu kerajaan, lengkap dengan hiburan khas Sumatera Barat.

Sungguh miris, di saat negara lain mengencangkan ikat pinggang demi melawan virus, negara kita malah welcome. Boleh lah kita mempertahankan keramahan (sebagai ciri khas negara kita), tapi kalau situasi sudah darurat apakah kita harus tetap ramah tanpa memperhatikan keselamatan rakyat?

Ah, sudahlah, tak perlu disesali. Nasi sudah menjadi bubur. Kita harus menerima kenyataan bahwa virus corona sudah berada di bumi Nusantara. Korban pun sudah banyak berjatuhan, bahkan hingga saat ini angka positif terkena Covid grafiknya semakin meninggi. Rumah sakit-rumah sakit sudah full dengan pasien Covid, malah sekarang muncul klaster-klaster baru penyebaran si virus jahat itu. Malah kata kemenkes sekarang ada 802 klaster. Hiks … hiks….

Menanggapi hal tersebut, beragam cara orang dalam menyikapi wabah ini. Ada yang takut berlebihan, ada yang bersikap masa bodoh toh tidak merasakan jadi korban yang terpapar, ada yang menjadi korban tapi pura-pura sakit biasa demi dijenguk para tetangga.

Saya sendiri turut prihatin kepada para korban yang sudah terpapar. Semoga Allah berikan kekuatan untuk melawan virus dan bisa menjemput kesembuhan kembali. Keluarga diberikan kesabaran dan ketabahan serta kebesaran hati jika ada salah satu anggota keluarga yang akhirnya meninggalkan dunia dan harus dimakamkan dengan protokol Covid. Semoga yang berguguran dalam melawan Covid juga mendapatkan pahala syahid.

Apresiasi tertinggi saya haturkan kepada para dokter dan seluruh nakes yang siap mengorbankan jiwa raga sebagai garda terdepan penanganan Covid. Mereka juga rela berpisah dengan keluarga demi mengemban misi kemanusiaan ini. Semoga Allah limpahkan pahala dan keberkahan buat mereka semuanya.

Dalam tulisan ini, saya ingin merekam jejak selama pandemi ini terjadi. Apa saja yang saya lakukan selama bekerja dari rumah? Apa yang saya rasakan selama ini? Kerinduan seperti apa yang selalu membayangi diri? Serta beribu pertanyaan lainnya.

Insya Allah semua akan terjawab di tulisan berikutnya. Ikuti terus ya! 😘

#Nubar
#NulisBareng
#Level1
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week1day1
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup