Jebakan untuk sang Pelari

Sumber gambar : id.lovepit.com

Penulis : Uty Agusriati

Entah, apakah dia punya bakat sebagai pelari yang diturunkan dalam darah orang tuanya, atau karena keadaan yang membuat dia harus jadi pelari. Yang jelas bahwa hampir setiap hari sahabatku yang bernama  Sitti itu selalu berlari.

Hari ini pun, di saat cuaca sangat terik untuk daerahku yang berada di pesisir pantai, kulihat bayangan Sitti dari kejauhan, dan pastinya dia berlari. Tidak tanggung- tanggung larinya secepat kilat sampai panggilanku sendiri tak terjawab dan hanya tersapu bersama bayangannya yang semakin cepat menjauh meninggalkan aku.

Pernah suatu saat aku bertanya pada Sitti , mengapa dia selalu berlari.  Saat itu kami menunggu yang lainnya untuk bermain loncat tali bersama. Katanya, bahwa sepulang sekolah setelah makan, dia harus mengambil uang hasil penjualan ikan bapaknya di rumah pak Balang (julukan untuk juragan penjual ikan di daerahku). Rumahnya jauh sekitar 2 kilo. Setelah itu dia mengaji di rumah puang Haji Sangkala. Rumahnya juga sekitar satu kilo dari rumah Sitti. Belum lagi ada ritual bahwa sebelum mengaji harus mengisi bak penampungan air di rumah Ustadz Haji Sangkala itu.

“Kalau saya tidak mengerjakan semua secara cepat, saya tidak punya waktu untuk bermain seperti sekarang”.  Jawab Sitti yang hanya bisa membuatku melongo dan takjub.

Aku yang seumuran dengannya merasa sangat kerdil. Merasa tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Nilai pelajaran di raport juga masih kalah dari Sitti. Mama yang sering menyuruhku ke warung sebelah rumah, bahkan kulakukan setengah hati. Itupun mama sudah beberapa kali menyuruh baru kulakukan.  Padahal selama ini aku merasa bahwa Sitti itu orang biasa – biasa saja, karena ku pandang dari apa yang kumiliki. Punya sepeda yang bisa kupakai ke sekolah dengan Sitti di boncengan ku. Punya uang jajan yang lebih untuk sekadar mentraktir Sitti.  Punya aneka alat bermain seperti ular tangga, monopoli, congklak, karambol, raket bulutangkis, boneka, juga punya tumpukan buku paket yang hanya menjadi pajangan di meja belajarku. Sesekali ku baca jika ada Sitti yang menemani.

****

Di hari Senin, saat upacara Bapak Kepala Sekolah  mengumumkan bahwa sekolah mencari siswa yang akan diikutkan dalam lomba lari dalam rangka peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus. Karena Bapak Bupati yang mengadakan kegiatan maka hadiahnya sangat menggembirakan. Ada uang pembinaan, beasiswa, piala, medali, sertifikat, dan hadiah sepeda. Para siswa yang berminat maka bisa mendaftarkan diri langsung ke guru olahraga.

Aku sangat senang mendengar pengumuman ini.  Aku  berharap Sitti ikut dalam lomba ini agar kami bisa balap sepeda dan berangkat ke sekolah dengan sepeda masing-masing.

****

Hari yang ditunggu- tunggu pun tiba. Awalnya diadakan lomba  penyisihan di sekolahku. Dari 30 orang pendaftar dan ikut lomba di sekolah, Ada 3 orang yang terpilih untuk maju ke tingkat kecamatan. Selanjutnya hasil dari tingkat kecamatan, hanya diwakili oleh Sitti. Aku sudah menduga bahwa Sitti pasti bisa menang.

Ketika di tingkat kabupaten, aku malah deg – degan, padahal awalnya aku sangat yakin Sitti pasti menang.

Bersama tim supported dari sekolahku SMP 1 Putera Bangsa kami, kami disuruh pak Zenal guru olahraga untuk membawa botol berisi kerikil. Alat ini akan dibunyikan agar Sitti mendapat semangat dari kami.

Air minum,  dan gula merah tidak lupa kusiapkan buat Sitti. Kata nenekku biar Sitti lebih kuat berlari. Untung saja Sitti mau memakannya.

****

Di lapangan kulihat sudah berkumpul sekitar 17 pelari dari berbagai sekolah mewakili masing-masing kecamatannya.  Sitti juga sudah menempati posisinya. Dia menatapku sambil mengangkat sebelah kakinya. Aku hanya tersenyum dan berdoa semoga sepatu yang kupinjamkan pada Sitti bisa membantu gerakannya lebih cepat mencapai finish.
Kuacungkan jempol padanya. Dia membalasnya dengan acungan jempol yang sama. Kami sama-sama tersenyum.

Di lapangan,  gemuruh teriakan, sorak Sorai, dan tabuhan alat gendang mengiringi para pelari. Masing-masing ingin berada di depan menunjukkan kemampuannya. Kulihat Sitti memimpin di depan. Di belakangnya empat orang terus membayanginya.  Ayunan kaki Sitti sangat cepat, panjang dan teratur. Sehingga dalam sekejap Sitti sudah meninggalkan jauh para lawannya di belakang.
Bapak Kepala sekolah yang melihat pemandangan itu secara spontan berangkulan dengan Bapak Jenal yang sudah melatih dan mengarahkan Sitti dalam mempersiapkan lomba ini.
Dan sesuai dugaanku, Sitti mencapai garis finish pertama.

Kami langsung berlari menuju Sitti. Dia menangis terharu bercampur bangga. Kami memeluknya meluapkan kegembiraan ini. Pak Kepala sekolah mentraktir kami semua makan bakso yang ada di pinggir lapangan. Kami semua sangat bahagia. Celoteh teman-teman saling mendahului menceritakan bagaimana  gerakan, kepandaian Sitti dan lawan Sitti di lapangan. Semuanya menjadi pengamat dan reporter dadakan. Aku hanya tersenyum bersama Sitti.

****

Besoknya tepat tanggal 17 Agustus, setelah upacara penaikan bendera, Bapak Bupati menyerahkan langsung hadiahnya kepada Sitti yang didampingi Bapak Kepala sekolah. Aku yang melihatnya dari barisan paduan suara ikut terharu. Sahabatku itu layak mendapatkan hasil usahanya selama ini. Setiap hari dia berlatih lari tanpa sadar bahwa yang dia lakukan setiap hari itu adalah latihan secara disiplin untuk mengasah kemampuan berlarinya.

“Puji syukur kepada Allah, dan saya mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua saya, kepada Bapak Kepala sekolah, bapak dan ibu guru, teman-teman, khususnya sahabatku Fatimah yang sudah mendaftarkan aku sebagai peserta lomba secara diam-diam.”

Aku hanya terbelalak mendengar suara Sitti yang menggema di lapangan. Dalam pidatonya dia menyebut namaku secara khusus. Ada rasa bahagia namaku disebut. Tapi, dari mana Sitti tahu kalau aku yang mendaftarkan namanya ? Ah nantilah kutanyakan langsung padanya.

Di kejauhan Sitti berfoto bersama Bapak Bupati. Bapak Camat dan Bapak kepala sekolah juga tidak mau kalah ikut memberikan hadiah dan berfoto bersama Sitti dan orangtuanya.  Sungguh beruntung kau Sitti. Kataku dalam hati.

****

Di hari Minggu saat kami berenang di laut yang sudah menjadi rutinitas kami, Sitti menjawab pertanyaan ku.

” Aku tahu dari Ibu wali kelas bahwa kamulah yang mendaftarkan aku, betul kan ?” Aku hanya tersenyum.

” Maaf ya Sit,aku seolah-olah menjebakmu.  Aku tidak bilang sebelumnya sama kamu, karena kutahu pasti kamu menolaknya.” Kataku dengan wajah bersalah. Ku pegang tangannya agar dia yakin bahwa aku betul- betul ingin membantunya karena melihat potensinya.

” Nggak pa pa. Saya malah berterima kasih karena kalau bukan kamu dan pinjaman sepatumu, saya tidak akan tahu saya ini bisa jadi pemenang dan tahu kemampuan saya.” Jawab Sitti sambil memelukku.

Sitti tahu makna balas Budi. Sebagai ucapan terima kasihnya, kami sekeluarga mendapat kiriman masakan dari orang tua Sitti. Juga sepatu baru warna pink buat aku.  Warna kesukaanku.  Warna yang semakin mencerahkan persahabatan kita. Warna yang juga mengikuti dimana kakimu berlari
mengejar cita- cita dan mencapai mimpimu.

****

Nubarnulisbareng/Utyagusriati