Jawabanku Adalah Akar

Jawabanku Adalah Akar

“Apa yang paling kau sukai dari sebuah pohon?” tanya seseorang padaku di suatu sore. Sebuah pertanyaan mendadak dengan jawaban yang harus disampaikan secara cepat. Hanya dua menit saja.

Sesaat aku tertegun. Bukan karena tak memiliki jawaban, tetapi gambaran sebuah pohon seakan tiba-tiba berdiri di hadapan. Ia memintaku mengamati dan memilih salah satu bagiannya.

Akar. Entah mengapa bagaikan sebuah mesin otomatis, kata-kata itu meluncur dari mulutku. Kenapa bukan bunga yang indah saat mekar, atau dedaunan yang romantis saat berjatuhan di musim gugur? Kenapa pula bukan batang yang kokoh? Ah, aku menggerutu sendiri.

“Mengapa?” seolah seseorang itu bertanya dalam penantian jawaban selanjutnya. Aku kembali tertegun.

Akar adalah sebuah fondasi, sebuah jawaban lagi-lagi meluncur otomatis. Ya, hati dan pikiran membenarkan lidahku. Sebuah landasan adalah bagian terpenting dalam sebuah kehidupan. Baik atau buruknya si pohon nanti, tergantung dari akarnya. Pada akar terdapat kekuatan, terdapat gambaran masa depan.

Akar yang pertama kali menyerap unsur hara dari tanah, lalu dikirim melalui kapiler yang ada di batang menuju daun dan bunga. Barulah kemudian, terjadi proses fotosintesis. Meskipun ia tak tampak dari luar, tetapi kerja kerasnya sangat berarti.

Jika dalam kehidupan, bagian tanaman ini ibarat seorang ibu. Pada dirinya kehidupan bermula. Di pundaknya sebuah tanggung jawab besar bersemayam. Meskipun ayah harus ikut andil dalam mendidik dan membesarkan buah hati, tetapi pada ibulah sang anak lebih banyak menghabiskan waktunya.

Ibu ibarat akar di dalam rumah tangga. Sementara agama dan ilmu adalah unsur hara yang harus didistribusikan ke semua bagian pohon. Jika akar tak dapat maksimal mengirim, maka pertumbuhan pohon pun akan terganggu. Begitu besar fungsi akar pada pohon, seperti itulah pentingnya fungsi ibu.

Berbanggalah kita para kaum ibu. Jangan malu jika dipanggil sudah ibu-ibu. Demi predikat itulah perempuan rela merusak bentuk tubuhnya, memperpendek waktu istirahat, membiarkan keriput menggantikan wajah cantik, dan menahan tangis di dalam hati.

“Ya, aku menyukai akar pohon dibanding bunga, daun, dan lainnya,” tegasku pada orang itu.

“Belajarlah dari akar. Yang tetap bekerja walau tak dipandang mata, yang tetap berbuat walau di tengah sepi. Karena ikhlasnya akar adalah sebenar-benarnya pembelajaran.” – K. Tatik Wardayati (Intisari.grid.id)

Sumber gambar: pixabay

Rumah media grup/Asri Susila Ningrum