JANGAN RISAU & ‘TERPAKSA’ MEMAAFKAN

Koleksi pribadi

Saat Idul Fitri tiba, berseliweran tagline ucapan ‘Mohon maaf lahir dan batin’. Sering ucapan tersebut dikirim sebagai broadcast message atau menjadi status di aneka sosial media tanpa kejelasan meminta maaf kepada siapa dan untuk apa.

Menurut saya ucapan ini kurang pas. Sebab dalam permintaan maaf setidaknya pasti ada unsur peminta maaf; orang yang diminta maaf dan alasan meminta maaf. Apalagi jika keluarga kita tidak mengenal orang tersebut tapi kita sampaikan ucapan :
Saya dan keluarga mohon maaf lahir dan batin.”
Ga kenal kok minta maaf?

Maka di tahun ini saya pribadi telah mengubah format ucapan saya. Kepada keluarga dan teman-teman secara umum, saya mengucapkan selamat Idul Fitri, namun saya sampaikan bahwa saya mohon maaf khusus kepada anda yang pernah merasa tersinggung oleh kata-kata atau sikap saya. Pasti saya pernah melakukannya.

Saya sampaikan begitu sebab kita tidak pernah bisa mengendalikan perasaan orang lain untuk tidak merasa ‘tersinggung’ bahkan walaupun kita tidak bermaksud ‘menyinggung’ mereka.

Yang penting adalah permintaan maaf secara personal. Hal ini menunjukkan kedalaman hati kita untuk memperbaiki hubungan lewat ungkapan maaf.
Maafkan saya karena sudah … “
“Maafkan saya pernah melakukan… “

Selain minta maaf, yang lebih penting lagi adalah tekad untuk memaafkan. Tingkat kesulitannya berlipat-lipat dari meminta maaf dengan tulus.

Khusus bagi hati yang masih terluka, yang masih belum bisa menerima sepenuhnya, tak perlu memaksa memaafkan sekarang juga karena keharusan bermaaf-maafan saat Idul Fitri.

Memaafkan akan lebih mudah ketika hati telah lebih siap. Jangan pula merasa bersalah karena belum bisa memaafkan orang lain. Sejatinya semua butuh waktu dan persiapan.

Kita bisa mulai persiapan dengan :

  1. Belajar memaafkan dulu diri kita. Belajar mencintai diri dengan lebih baik. Memperlakukan diri sendiri dengan lebih hormat.
  2. Kita juga perlu belajar menerima kondisi orang yang melukai hati kita. Mengapa ia melakukannya. Apa situasi yang menyebabkan ia melakukan itu semua.
  3. Bertanya kepada Tuhan apa rencana baik Tuhan dibalik semua kejadian tersebut. Bagaimanapun tidak enaknya, setiap hal terjadi hanya atas seizin Tuhan.

Ketika kita sudah bisa mengenali sebab sakit hati kita sekaligus mengerti mengapa orang lain bersikap sebegitu menyakitkan, hal itu akan sangat membantu proses penerimaan (acceptance) pada sebuah kejadian atau keadaan.

Penerimaan yang telah lancar dilakukan berulang-ulang, akan menguatkan dan menyembuhkan luka hati. Seiring waktu, hati kita akan mampu memaafkan dengan lebih lapang dan bahagia.

Jangan menyakiti diri dengan memaksa memaafkan sebuah kejadian jika memang belum siap melakukannya. Persiapkan dulu saja. Berlatih memperbanyak cinta pada diri sendiri dan sesama.

Cinta sangat dekat dengan maaf dan pengampunan. Cinta akan menuntun langkah menuju maaf yang sejati. Maaf yang ikhlas dari dasar hati.

Semoga semua berbahagia.

Renny Artanti
STIFIn Family & Business Trainer
Co Founder of Xcellence International