Jangan mudik!

Jangan Mudik!

“Tidak ada mudik. Titik!”

Itulah kalimat yang saya dengar dari berita di layar kaca. Kalimat ini disampaikan tim satuan gugus tugas covid 19 sebelum mengakhiri pidato himbauannya di salah satu stasiun televisi.

Himbauan pemerintah untuk seluruh warga agar tidak mudik sepertinya belum digubris secara maksimal, sehingga penekanan kata “titik” diperlukan untuk menegaskan larangan mudik ini.

Masih didapati warga yang nekat mudik dengan berbagai alasan. Tapi aturan mesti dipatuhi. Mereka harus mematuhi perintah para petugas cek point untuk memutar balik arah kendaraan, dan menahan diri untuk tidak mudik.

Memang, tahun ini kita mengalami ramadan yang berbeda. Di saat wabah pandemi mengintai, tidak terlihat keramaian tarawih di mesjid-mesjid. Acara buka bersama pun tidak bisa dilakukan. Yang biasanya berbuka puasa di luar rumah dengan berburu kuliner, saat ini cukup di rumah saja dengan menu olahan sendiri.

Lebaran tahun ini juga akan berbeda, terutama bagi saya yang tinggal jauh dari orangtua dan saudara. Acara sungkeman keluarga dipastikan tidak ada. Biasanya saya dan adik-adik berkumpul di rumah orangtua. Yang membuat saya sedih, ini adalah lebaran tahun kedua tanpa Bapak yang telah berpulang mendahului kami. Mama hanya ditemani dua adik saya yang masih bujangan.

Semoga pandemik ini segera berakhir. Semua keadaan kembali normal seperti sediakala. Biarlah tahun ini tidak berkumpul di hari raya kemenangan. Kita manfaatkan teknologi untuk bersilaturahim secara online. Walau jauh di mata tetapi tetap dekat di hati.

So, jangan mudik, ya. Demi terputusnya mata rantai penyebaran virus korona.

WCRumedia/yuyunkho