Jangan Main Api Kalau Ga Mau Terbakar

Jangan Main Api Kalau Ga Mau Terbakar

Di suatu pagi di hari Sabtu, saat kami semua sudah siap berangkat menuju tempat pelatihan di sekolah. Tiba-tiba terdengar jeritan anak perempuan saya di luar. Awalnya saya mengira hanya bercanda sama kakaknya, tapi jeritan tadi berubah tangisan histeris.

Merasa ada yang ga beres, aku segera keluar. Di luar sana terlihat Ayesha kecil sedang nangis ketakutan karena di ujung rok nya ada api yang semakin lama semakin membesar. Gara-gara ikut panik, aku berlari sambil ikut histeris. Bersyukur saat itu tetangga depan rumah berhasil memadamkan api walaupun rok kesayangannya tak bisa diselamatkan.

Dengan badan gemetar, segera kugendong dan kuajak ke rumah untuk segera diberikan pertolongan pertama. Suamiku cepat tanggap, ia segera memberikan pertolongan pertama. Beruntung luka bakarnya hanya sedikit. Tapi pasti dia mengalami shock berat.

Alhamdulillah setelah kejadian itu sekarang dia menjadi lebih hati-hati, tidak mau lagi bermain api karena takut terbakar. Dia belajar sebab akibat yang nantinya akan menguntungkan ataukah akan merugikan diri sendiri.

Bercermin dari kisah terbakarnya kaki Ayesha, ada hal yang harus kita waspada. Seyogyanya bukan saja Ayesha atau kakaknya yang mengambil pelajaran. Saya sendiri sedikit menyambungkan ke dalam cerita serupa dalam konteks berbeda.

Kisah si fulan yang mencoba memancing bara api dengan melepaskan kontrol diri terhadap penggunaan gadget. Bermula dari sapaan biasa kepada fulanah, kemudian berlanjut saling membantu tugas kuliah. Lama-lama jarak semakin terkikis hingga berani bercanda dan lebih sering komunikasi pribadi lebih intens padahal hanya chit-chat ga penting.

Bisa jadi dalam dunia nyata masih ada batas karena terbungkus rasa malu pada sesama. Tapi tidak menutup kemungkinan di dunia maya batas tembok rasa mulai hancur tak tersisa. Awalnya hanya teman biasa lama-lama timbul perasaan tak biasa.

Jika sama-sama tak berdua mungkin tak mengapa tinggal lanjut saja ke KUA. Tapi kenyataan berkata lain, efek chit-chat itu bisa merusak kehidupan yang sudah dibangun bertahun-tahun lamanya. Apalagi jika istri si Fulan atau suami si Fulanah tak sengaja membaca percakapan tak penting itu, bisa jadi muncul syak wasangka yang bisa saja berujung kehancuran rumah tangga.

Jadi, hati-hati, jangan main api kalau tidak mau tubuhnmu terbakar. Jangan main hati jika hidupmu tidak mau mengalami kehancuran.

Jaga diri dan batasi komunikasi dengan lawan jenis terlebih jika kalian sudah memiliki pasangan. Ada hati yang harus dijaga agar tak kecewa dan terluka.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh