jangan jajan tengah malam

Sarah mempunyai seorang adik, Sari, yang baru saja diterima bekerja di sebuah hotel di daerah Jakarta Utara. Cukup jauh memang karena Sarah dan keluarga tinggal di kawasan Jakarta Timur. Awal bekerja masih dapat shift 1 alias masuk pagi tapi bulan berikutnya mulai mendapat giliran shift 2, yang jam kerjanya mulai dari pukul 14.00 hingga pukul 22.00.

Hari ini kebetulan Sari mendapatkan jadwal shift 2. Biasanya karyawan perempuan mendapat keistimewaan diantar pulang oleh kendaraan operasional hotel jika pulang malam. Namun tidak kali ini, mobil hotel rusak tidak bisa jalan. Ditambah cuaca hujan deras lengkap dengan angin kencang.

Hingga pukul 24.00 belum ada tanda-tanda Sari sampai ke rumah. Mama tampak sangat khawatir. Untuk memendam kekhawatirannya mama mencoba menunggu sambil salat. Kadang sesekali mama mencoba melongok ke luar dari balkon lantai dua, masih lengkap dengan mukena jadulnya. Mukena terusan berwarna putih, menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan saja.

Beberapa waktu terus seperti itu, hingga akhirnya saat mama sedang berada di balkon, mama mendengar seperti suara tukang jualan keliling dari kejauhan.

“Tukang apa ya itu? Kok lama-lama terasa lapar juga nih,” pikir mama. “Tungguin ah, panggil dulu baru nanti turun ke bawah.”

Tak lama muncul juga, ternyata penjual nasi goreng. Sambil mengumpulkan kekuatan, mama mencoba berteriak agar terdengar oleh si abang penjual nasi goreng. Mungkin karena sudah larut malam, maka suara mama bisa terdengar oleh si abang. Abang nasi goreng langsung menghentikan langkahnya dan mencari sumber suara.

Namun apa yang terjadi? Si abang tampak ketakutan dan setengah berlari mendorong gerobaknya.

“Loh, si abang gimana sih, kok malah lari? Masak tidak mau dibeli dagangannya?” pikir mama penuh tanda tanya.

Untunglah tak lama tampak taksi menepi, terlihat Sari turun dari taksi. Mama pun segera turun untuk membukakan pintu. Masih dengan mukenanya mama bercerita pada Sari apa yang baru saja terjadi.

“Mama tadi masih pakai mukena gini manggil abang nasi gorengnya?” tanya Sari.

“Iya, kan Mama lagi salat. Bolak balik aja sambil nunggu kamu. Repotlah kalau harus buka terus pakai lagi mukenanya,” jelas mama santai.

“Ya jelas aja si abang kabur Ma. Tengah malam ada putih-putih gini,” Sari terbahak tak mampu melanjutkan kalimatnya.

Mama sedikit bengong sambil melihat penampilannya. Akhirnya mama pun ikut tertawa geli sambil membayangkan kembali wajah si abang yang lari ketakutan tadi.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie