Jangan bilang siapa-siapa

Jangan bilang siapa-siapa.

Indahnya pagi membuat hati bernyanyi. Aku berlari-lari kecil di jalan kompleks menuju lapangan. Biasanya pada jam ini jogging track cukup ramai, dan yang pasti ada dia di sana. Aku yakin.

Jangan bilang siapa-siapa ya.

Aku sedang terpesona.
Pada seseorang yang sudah tiga kali minggu kumelihatnya. Lalu tiga hari terakhir ini aku dapat info lengkap tentang dirinya.
Aku berniat, pagi ini akan menyapanya.

Ah ya…
Gadis ini seorang guru sekolah dasar.
Aku menarik asumsi pasti dia seorang yang sabar.
Sebab mengajar murid-murid SD butuh ketelatenan.

Dia juga aktivis sosial. Ini yang bikinku terpapar kagum luar biasa.
Atau jangan-jangan aku jatuh cinta?
Hmmm… entahlah.
Memikirkannya aku sudah berdebar.
Sering senyum sendiri dan menjadi bersemangat jika dapat informasi tentangnya.
Apakah aku jatuh cinta.

Nah… itu dia, gadis yang sudah menyita hati dan pikiranku tiga pekan ini.
Yang selalu membuatku berharap hari minggu segera tiba.

Aku bergerak mengikutinya di jogging track.
Memikirkan cara untuk menyapanya.

Dak dik duk. Dak dik duk.. debar hatiku makin tak karuan.

Jarak kami semakin dekat.
Aku mulai merangkai kata.

“Pagi…” senyumku lebar sekali. Hanya itu yang keluar.

Ia menoleh padaku dan membalas tersenyum.
Lari kami beriringan.
Asyiik…

Aku sedang memikirkan kalimat yang bisa melahirkan percakapan.

“Bundaaaaa…” anak perempuan, berambut ikal dan panjang berlari ke arah kami.

Lariku terhenti, sama dengan gadis itu.
Ia menunggu anak perempuan yang tertawa, yang berlari ke arahnya. Bertumpu dengan lutut, ia merangkul anak itu.

“Sudah jalan kemana saja? “

Duuhhhh… suaranya.
Suaranya membuatku berdebar tak karuan.

Mengapa ia dipanggil bunda?
Apakah rasaku harus tersimpan saja.?

Aku meneruskan lari pagi.
Matahari rasanya tak seramah tadi.
Berbagai pikiran berhamburan.

Belum tentu itu anaknya.
Ah mungkin itu muridnya.
Atau ponakannya.

Arrrggghhhh…
Jangan bilang siapa-siapa ya.
Aku masih berharap, semoga gadis yang mengganggu hari-hariku itu. masih bisa kudekati. Tanpa ada halangan yang berarti.

Semoga anak kecil itu bukan anaknya.
Semoga
Semoga.

Kupercepat lariku

Nulis Bareng/Maulina Fahmilita