Jangan Ada kata Terserah.

Terserah Kali ini sungguh aku tak peduli, ku tak sanggup lagi jalani cinta dengan mu, biarlah hati ini tanpa bayangmu dirimu lagi, ku tak sanggup lagi mulai kini aku terserah, kalimat diatas adalah potongan  syair lagu dari Glenn freddy ini,  sepertinya kita sudah tau makna dari kata “Terserah” di lagu ini, terserah karena sudah tidak bisa lagi mempertahankan kebersamaan jalinan kasih, sudah pasrah, putus asa dan kecewa.

Kata terserah banyak makna yang ada didalamnya, kadang dalam menjawab permintaan atau pertanyaan, acap kali walau yang menjawabnya menganggap kata “Terserah” ini adalah jawaban tanda ia setuju atau mengiyakan, sering dianggap sebagai jawaban yang terpaksa atau tidak setuju. Misalkan ” kita makan Cui mie aja ya bun…” ” terserah…”, kok terserah?. Padahal si bunda setuju dengan pilihan makan yang di tawarkan ayah. Sehingga masih perlu kalimat penjelasan lagi untuk kata terserah ini agar menjadi arti setuju, kenapa bukan langsung ucapkan iya, oke. Itulah manusia hehe…

Tapi ketika kita di hadapi dengan suatu hal yang membutuhkan perhatian, konsentrasi yang penuh, perjuangan, kerjasama, pengorbanan,  melibatkan orang banyak, yang harapannya semua bisa berinteraksi, berkontribusi, taat dan mau ikut aturan seperti halnya saat ini bersama dalam menghadapi “COVID 19”, karena tidak sesuai dengan harapan dan kehendak mereka yang saat ini sedang berjuang, maka kata “Terserah” menjadi satu keputus asaan, kecewa dan marah. 

Kita tidak bisa sekehendak hati kita dalam menghadapi kasus Covid 19 ini, karena semua berhubungan dengan nyawa seseorang. Disaat seseorang terdesak dengan keadaan, waktu dan kesempatan sehingga muncul kata penuntas akhir ya sudah “Teserah”, yang pada dasarnya kata tersebut baru saja akan menciptakan masalah baru yang akan timbul bersama kata tersebut.

Indonesia harus membelenggu kata “Terserah” dalam menghadapi Covid ini agar kita semua bisa kuat dan bersatu padu dalam memberantas Corona di Bumi Indonesia, jangan biarkan hati ini goyang dan diliputi kekecewaan, berapa banyak dari mereka yang seluruh anggota keluarganya harus menanggung beban karena diantaranya ada yang memiliki profesi sebagai tenaga kesehaan atau mereka yang selalu berapa dilini terdepan Covid ini. Dan meluas masalah ekonomi yang semakin sulit tertuntaskan.

Jangan biarkan karena untuk kepentingan segelintir manusia yang menganggap nyawa tidak penting, membuat kita merasa sia-sia dengan segala apa yang di upayakan saat ini, sudah sekian bulan kita berjalan dalam keadaan ini, kita harus mampu terus bergerak dan tetap fokus pada tujuan Indonesia bisa menghadapi Corona bagaimanapun caranya.

Dari pada kata “Terserah” lebih baik kita siap-siap untuk berteman dengan Corona, dengan segala macam kemungkinan yang saat ini dihadapi oleh pemerintah, salah satunya dengan kebijakan “New Normal”, setiap ada masalah akan ada solusinya, dan saat ini kita sedang menjajaki solusi terbaik apa yang harus ada saat ini dalam menghadapi Corona.

Sabar, bergerak, berbaik sangka dan terus merayu Allah dengan berbagai lantunan doa dan ibadah istimewa adalah ikhtiar kita yang tidak boleh putus dalam keseharian kita, setiap apapun yang bernyawa pasti akan mati dan Allahlah penggenggam erat hak itu, maka jangan ada kata “Terserah” yang mengandung arti masa bodoh dan kecewa kita terhadap satu keadaan. Bissmillah bersama kita hadapi dengan mengeratkan genggaman tangan kita, bahu membahu serta saling menyemangati.

Sumber foto : Cuplik dari facebook

Nubarnulisbareng/Nurfahmi