Inilah 4 Bahaya Menyusui Sambil Mengoperasikan Smartphone

Bahaya smartphone untuk bayi
Photo by Dominika Roseclay from Pexels


Brexting (breastfeeding texting), kebiasaan menyusui sembari bermain gadget, rasanya sudah sangat populer di kalangan mamah muda zaman now. Fitur smartphone yang semakin beragam menjadi semacam hiburan buat para ibu untuk mengatasi kejenuhan saat menyusui si kecil. Belum lagi kalau pas terbangun tengah malam karena si bayi minta nenen.

Duh, ngantuk banget, kan! 

Namun, sadarkah kita bahwa kebiasaan mengaktifkan smartphone saat menyusui sangat rentan bagi perkembangan si kecil? 

Ya, hal ini sangat tidak disarankan oleh ahli kesehatan dan perkembangan anak.

Berikut ini penyebabnya: 

1. Distraksi perhatian ibu pada bayi


Saat bermain gadget, tentu perhatian kita jadi terpecah, ya. Perhatian tidak fokus pada bayi. Bahkan, secara tidak kita sadari, pandangan mata kita bisa tersedot berjam-jam ke layar smartphone. Tau-tau si kecil sudah terlelap tanpa sempat kita sapa dan kita ajak bercanda. Duh, ngenes banget bayi kita.

Padahal, bukankah bayi kita adalah salah satu anugerah terindah yang kita nanti-nantikan kehadirannya? 
Setelah dia hadir, masa sih mau kita cuekin aja. Betapa tidak bersyukurnya kita. Sementara di luar sana masih banyak pasangan suami istri yang mendambakan tangis dan tawa bayi untuk melengkapi kebahagiaan mereka.

2. Kurangnya bonding (kelekatan) ibu dan bayi


  Bonding adalah ikatan emosional yang menetap kuat, bertimbal balik antara bayi dan orangtua, serta berperan penting pada kualitas hubungan selanjutnya. Bonding bisa dibentuk sejak anak masih bayi lho. Salah satunya dengan menyusui bayi secara langsung.

Bonding antara orang tua dan bayi akan sangat berpengaruh pada kematangan emosi, sosial, dan kognitif ketika ia menginjak usia dewasa. Jika anak sudah lekat dengan orang tua sejak bayi, kelak dia akan mudah berinteraksi dengan orang lain. 

Anak yang memiliki kelekatan dengan orangtua akan tumbuh menjadi pribadi percaya diri, memiliki harga diri, berani, memiliki persahabatan yang erat  yang dimulai sejak anak usia 3-5 tahun, serta aktif dalam berkegiatan.

Pembentukan bonding antara ibu dan bayi saat menyusui bisa terbentuk karena adanya hormon oksitosin. Saat menyusui, tubuh ibu akan memproduksi hormon oksitosin yang berpengaruh meningkatkan produksi ASI serta menimbulkan perasaan tenang dan nyaman pada bayi. Proses ini menyebabkan bayi merasakan kedekatan dan kasih sayang dari ibunya.

Erikson, ahli psikologi perkembangan, menyebutkan bahwa kegiatan menyusui secara langsung dapat membentuk basic trust. Rasa percaya yang mendasar (basic trust) dirasakan bayi pada ibunya ketika ibu mampu untuk memberikan respons yang sesuai pada bayi. Salah satunya adalah saat bayi lapar dan membutuhkan ASI, ibu segera mendekat dan memberikan ASI pada bayi.

Bila pola semacam ini selalu terbentuk, maka akan terbentuk bonding antara ibu dan bayi. Sebaliknya, jika ibu tidak memberikan respons yang sesuai, maka bayi pun akan membentuk rasa tidak percaya pada ibunya. Oleh karena itu, saat memberikan ASI sangat disarankan untuk menjaga kontak mata antara ibu dan bayi.

3. Kurangnya stimulasi pada bayi


Proses menyusui bukanlah sekedar kegiatan fisik untuk mengganjal perut bayi saja lho, Moms. Ada banyak aktivitas yang dilakukan bayi saat menyusu pada ibunya. Bayi belajar melihat, mendengar, dan mencium aroma ibunya. Coba perhatikan si kecil saat menyusu. Bola matanya yang masih kecil akan melihat objek paling dekat dengannya, yaitu sang ibu. Dia akan terus memandang lekat pada wajah wanita super yang pernah hidup di dalam rahimnya.

Bayi juga belajar mendengar suara. Jika ibu sering mengajak bayi bicara atau bersenandung saat menyusui, bayinya akan merasa sangat senang lho. Karena dia mendengar kembali suara orang yang paling dikenalnya sejak dalam kandungan. Selain itu, bayi juga belajar mengenal dan menghafal aroma tubuh khas ibunya. Bayi hafal lho bau khas ibunya. 

Ada sebuah kisah di mana ada seorang bayi yang menangis saat ditinggal ibunya pergi, lalu kakaknya mengambilkan baju yang baru saja dipakai ibunya. Setelah si bayi mencium aroma ibunya, seketika ia merasa tenang dan tidak menangis lagi.

Hal lain yang dipelajari bayi saat menyusu pada sang ibu adalah sentuhan. Bayi merasa nyaman saat mendapat sentuhan dan belaian lembut. Ia juga senang menyentuh wajah dan pakaian ibunya. Sentuhan ini adalah salah satu cara bayi untuk mengenal objek yang ada di lingkungan terdekatnya. 

Ternyata, banyak sekali yang bisa dipelajari bayi saat menyusui, ya! 
Dengan terus menjaga kontak pada bayi, ibu bisa memberikan stimulasi pada bayi.

Stimulasi ini akan mengembangkan kemampuan dasar yang dipelajari bayi. Bayangkan deh, kalo bayi sedang belajar banyak saat menyusu, ternyata ibunya cuek. Bisa-bisa bayi malah tertidur tanpa sempat mendapatkan stimulasi yang tepat dari ibu. Hiks!

4. Radiasi smartphone pada anak


 Penggunaan smartphone oleh ibu yang sedang menyusui dapat menyebabkan otak bayi terkena radiasi. Pertumbuhan otak bayi yang sedang berjalan pesat dapat terganggu akibat radiasi dari gadget yang dipakai oleh orang tuanya. Hal ini sangat mempengaruhi terbentuknya struktur otak dan sistem syaraf. Juga berdampak pada sistem kelistrikan pada otak.

Jangankan menggunakan gadget di dekat kepala bayi, ahli perkembangan anak pun melarang kita untuk meletakkan smartphone di kamar anak. Karena radiasi smartphone ini sangat besar dampaknya pada perkembangan otak anak. Ih, serem ya..

Nah, itulah 4 bahaya menggunakan smartphone saat menyusui. 

Yuk Sobat Rumedia, kita promosikan gerakan berhenti menggunakan gadget saat menyusui agar tercipta bonding dan stimulasi pada anak saat menyusui.

Setuju?

Rumahmedia/ nuralfiy

Sumber: www.emakmillenial.com