INFEKSI SALURAN KEMIH part 3

Pintu ruangan dr. Iwan pun terbuka. Tampak keluar dari ruangan itu pasangan suami istri dan dua orang anak kembar.

“anak Aisyah!” panggil perawat. Sepertinya ia mengenali Aisyah dan tahu kalau sudah selesai periksa lab.

“Iya,” Sarah pun berdiri sambil menggendong Aisyah, diikuti oleh Sam di belakangnya.

“Sudah selesai lab nya Bu?” tanya dr. Iwan.

“Sudah Dok,” jawab Sarah sambil menyodorkan hasilnya.

Dr. Iwan segera membuka amplop hasil lab dan membacanya. Terlihat dahinya sedikit berkenyit, seperti sedang berpikir.

“Ibu, dari sample darahnya Aisyah, hasilnya normal. Tidak ada indikasi DBD maupun thypus. Nah, dari urine nya jelas ini ada infeksi.”

Deg! Sarah dan Sam tampak menahan napas menunggu kelanjutan kata-kata dr. Iwan.

“Saya sarankan Aisyah di rawat Bu, Pak. Saya kasih waktu 2 hari kalau Ibu berkeras ingin merawat di rumah tapi kalau dalam waktu 2 hari masih demam, tidak bisa ditawar lagi harus dirawat. Itu kalau ingin Aisyah sehat kembali.”

Ultimatum dokter sungguh luar biasa, menandakan kalau sakitnya Aisyah bukanlah main-main.

“Dok, saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Saya tidak mau gambling Dok. Rawat sekarang saja jika itu lebih baik untuk kesembuhannya,” ujar Sarah pasrah sambil memandang Sam untuk meminta persetujuannya.

Sam hanya mampu menganggukan kepalanya, tanda setuju.

“Ini nih, orang tua jaman sekarang suka males. Sudah tidak model lagi popok kain maunya popok sekali pakai. Sayangnya jarang diganti. Apalagi kalau pup, harus segera diganti. Ini biasanya karena baru ganti terus anaknya pup, merasa sayang, didiamkan saja. Setelah itu pipis, bercampur urine dan feses, bakterinya masuk ke saluran kemih. Apalagi anak perempuan uretranya pendek. Bakteri bisa cepat masuk. Bahaya Loh kalau bakterinya sudah sampai ginjal,” jelas dr. Iwan.

*** Bersambung.

Apa benar yang disangkakan oleh dr. Iwan?

Simak lanjutannya besok lagi ya.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie