IDUL FITRI DI KAMPUNG SARAH

Perayaan Idul Fitri di kampung Sarah mungkin tak jauh berbeda dengan kampung lainnya. Semua masyarakat berbondong-bondong keluar, mengunjungi tetangga, saling bermaafan. Tak jarang mereka malah bertemu di jalan dan langsung bersalaman, saling memaafkan. Disitulah justru seninya dan sedikit lucu karena mereka malah bermaafan di jalanan.

Sedikit berbeda dengan kak Rianti, walau warga baru di kampung tapi kak Rianti sangat memperhatikan urutan umur, yang muda harus menghampiri yang tua. Praktis kak Rianti hanya mau mengunjungi rumah tetangga yang lebih tua saja.

“Eh Kak Rianti, kebetulan nih kita ketemu di rumah oma Surti. Taqobalallahu minna wa minkum. Maaf lahir batin ya Kak,” sapa Sarah ramah dan hangat.

“Gak bisa Sarah, kamu harus ke rumah Kakak kalau mau minta maaf. Belum Kakak maafkan kamu. Enak saja sekalian gini, huh!” tolak kak Rianti.

Sarah terkejut, belum pernah selama Sarah berlebaran di kampungnya bertemu orang macam kak Rianti. Bahkan yang lebih tua macam bu Ningsih pun, tetap mau menyapa lebih dulu dan bermaafan. Tergantung siapa yang melihat lebih dulu. Padahal bu Ningsih itu adalah istri dari ketua rukun warga di kampung Sarah.

Sarah berusaha menutupi kekagetannya dan menggoda kak Rianti. “Iya, nanti Sarah ke rumah Kakak deh. Masak yang enak ya Kak, Sarah mau makan siang sekalian di rumah Kakak.”

“Gak masalah, Kakak masak banyak dan sudah pasti enak kalau masakan Kakak,” sahut kak Rianti dengan mantap. “Hei, kamu juga ya, Andin! Ke rumah Kakak, gak sah lebaran di rumah Oma Surti.”

“Ampun deh Kak Rianti, ribet amat sih jadi orang. Andin habis ini mau ke rumah mertua. Sekalian saja sih, hemat waktu Kak!” elak Andin.

“Tidak bisa! Tidak harus hari ini Andin, bulan Syawal masih panjang. Kapan waktu kamu longgar, kamu lebaran ke rumah Kakak.”

“Memangnya Kakak tiap hari sedia ketupat?” ledek Andin sambil tertawa.

“Ya, kan ada kue-kue lainnya. Tidak harus ketupat Andin!” seru kak Rianti tak mau kalah.

“Pakai amplop juga gak Kak?” Andin bertanya sambil tertawa. “Kalau khusus datang gitu, enaknya banyak bonusnya,”

“Ish kamu kayak anak kecil saja!” sungut kak Rianti.

Semua yang ada di rumah oma Surti tertawa, melihat Andin menggoda kak Rianti.

“Sudah-sudah, ayo ini diicipi kuenya atau mau makan ketupat langsung juga boleh,” sela oma Surti berusaha mengakhiri perdebatan.

“Sarah langsung pamit saja Oma, terima kasih. Masih banyak yang belum dikunjungi.”

“Andin juga ya Oma, biar gak kesiangan nanti ke rumah mertua.”

Begitulah kira-kira suasana lebaran di kampung Sarah. Bagaimana dengan di kampungmu?

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie