Ibuku, Sang Inspirator

Ibuku, sang Inspirator

Jika ditanya, siapakah orang terdekat yang paling hebat? Jawaban saya adalah Ibu. Ya, kami menyebutnya ‘Omak’. Sosok paling gigih, tekun, rajin, ulet, inspiratif dan semua sebutan istiwewa pantas disematkan untuknya.

Dia bukanlah seorang sarjana, atau pun pengusaha kaya. Bukan! Dia hanyalah seorang petani biasa yang setiap pekan melelang hasil pertaniannya pada pagi-pagi buta, setiap Sabtunya. Seorang ibu dari 8 anak yang telah ditinggal pergi oleh ayahanda 12 tahun belakangan. Namun, ia berhasil mengantarkan 4 anaknya menjadi SARJANA. Luar biasa, bukan? Ialah ibuku: N br. Limbong.

Sebuah besutan kecil namun sangat bermakna ia awali di sela humanya. PEMBIBITAN!

Lemahnya daya jual dan hasil panen serta biaya pengelolaan tanaman jeruk di Dairi khususnya Sidikalang, membuat petani kembali beralih pada tanaman KOPI. Atas dasar inilah beliau mengupayakan pembuatan pembibitan kopi varietas ATENG SUPER yang siap tanam.

Kenapa kopi?

Berawal dari tahun 1995 perdana kopi ditanam oleh mereka di Kuta Padang, kopi ini terkenal dengan nama ‘Kopi Sigarar Utang’ (kopi pembayar hutang). Tanaman ini kemudian menjamur dan dibudidayakan hampir oleh semua masyarakat desa. Hingga tahun 2010/2011 petani beralih pada tanaman Jeruk. Namun tidak bertahan lama. Hanya sekitar 5-8 tahun. Dapat dikatakan banyak masyarakat yang gagal panen disebabkan hama dan biaya pemeliharaan yang cukup tinggi. Belum lagi pemasarannya yang tergolong sulit. Oleh sebab itu masyarakat kembali beralih pada tanaman kopi sejalan dengan indikasi geografis Dairi yang memang lebih sesuai dengan jenis tanaman ini. Prospek injilah yang dijadikan dasar bagi sang inspirator untuk mengembangkan pembibitan kopi ini yang kemudian berkembang menjadi usaha di lingkungan keluarga besarnya.

Siap Tanam?

Ya. Biji kopi yang telah dipilih disemai dan dipindahkan ke dalam polybag 250 gram. Sehingga di usia 5 atau 8 bulan (8-14 daun) bibit tersebut sudah bisa dipindahkan ke media tanam yang telah disiapkan petani. Berawal dari ide inilah beberapa Masyarakat sekitar berniat untuk mencoba ikutan usaha ini. Dengan dukungan dan support sang motivator, maka beberapa warga telah berhasil mengembangkan usaha pembibitan ini di daerah tersebut. Bukan hanya skala kecamatan, namun sampai ke beberapa kabupaten tetangga. Bahkan mereka yang memiliki modal lebih besar cenderung lebih sukses dalam usaha mikro ini.

Cemburu?

Tidak ada istilah cemburu walaupun usaha rekan lebih maju. Prinsip sang motivator ini adalah, ‘Khairunnas anfaauhum linnaas’ sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Walau kadang ada beberapa selentingan tetangga/masyarakat yang mengatakan, ‘Untuk apa kerja capek di hari tua,? Bukankah hari tua itu untuk menikmati hasil kerja keras sedari masa muda’?

Kawan, petani itu tak kenal istilah pensiun. Karena bekerja di kebun, bersahabat dengan embun pagi, terik matahari, bahkan basah kuyup ditengah derasnya guyuran hujan sudah menjadi sahabat bagi mereka. Dan itu yang menjadikan mereka menyatu dengan alam. Sehingga, sehari saja tidak bersentuhan dengan rutinitasnya, terasa asing baginya. Bibit yang telah disemai memerlukan perawatan khusus dari tangannya yang cekatan. Hingga mencapai masa siap tanam dengan ukuran daun 8 sampai 14 lembar dan siap dipromosikan untuk ditanam oleh masyarakat pencinta kopi. Untuk Dairi kembali berjaya.

Teruslah berkarya, wahai wanita hebat! Teruslah menabur manfaat bagi sesama. Semoga tercatat menjadi amal Dzariyyah.

Rumahmediagrup/MaySilla