IBUKU PANDAI MENJAHIT

Saat menulis ini, aku sedang teringat bagian masa kecilku yang manis. Aku diasuh oleh ibuku yang wonder women. Ya, mamah (sebutan panggilan sayangku kepada ibu) memang bisa kukatakan sebagai wonder women. Beliau sehat dan selalu tegar menjalani masa masa membesarkanku. Mamah terpisah dengan bapak oleh gerbang perceraian namun bisa membesarkan buah hatinya dengan jiwa hebatnya.

Ku ingat dulu, mamah punya mesin jahit bermerk Singer. Kata mamah itu mesin jahit termahal pada masanya. Mesin jahit terbaik kualitasnya. Dalam bahasa sunda, singer artinya cekatan. Jadi mesin jahit itu pasti paling bagus menghasilkan baju jahitannya. Begitulah mamah berfilosofi saat itu. Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana mamah belajar menjahit. Aku hanya tahu mamah sudah piawai menjahit.

Di rumahku ada suatu ruangan yang penuh dengan pola pola jahitan dari koran bekas. Anehnya walau aku tahu tapi hanya cukup tahu saja dan tak pernah mau terlibat atau membantu. Aku tidak tertarik dan juga tak diajari untuk bisa menjahit oleh mamah. Entah kenapa mungkin aku sibuk belajar atau bermain. Jadinya hingga kini aku tak pernah bisa menjahit sedikitpun. Paling cuma menjahit pakai jarum tangan saat membetulkan yang sobek sobek.

Dulu mamah sering menjahitkan baju orang lain atau baju tetangga untuk lebaran. Ku masih ingat dulu bayarannya 2500 rupiah per stel baju. Katanya mamah termasuk penjahit mahal karena rapi dan bagus hasilnya. Baru ku mengerti kini, mungkin dulu itulah yang dinamakan mencari nafkah. Dan yang paling ku kenang dari kepandaian mamah menjahit adalah tentu saja mamah selalu menjahitkan baju bajuku untuk anak perempuan satu satunya ini hehe …Teman temanku dulu suka ngiri jika melihat baju bajuku bikinan mamah.

Entah sejak kapan tepatnya mamah akhirnya tidak lagi menerima jahitan tapi hanya menjahit baju bajunya untuk sendiri dan pernah beberapa baju dan mukena juga membuatkan untuk cucu-cucu cantiknya. Ada 4 cucu perempuan yang dimiliki mamah. Semuanya pernah kebagian dijahitkan baju baju. Dan yang paling menakjubkan adalah mesin jahitnya tidak pernah ganti, tetap yang itu sejak dahulu kala.

Kini mamah semakin jarang menjahit, mamah sudah tak begitu minat menjahit. Mamah bilang otak mamah sudah tidak terlalu mau diajak menghitung ukuran baju katanya jadi kurang bersemangat. Mungkin mamah sudah lelah atau sudah malas karena sudah tua dan sudah buram matanya. Aku pun memaklumi hal itu.

Itulah ceritaku tentang mamah yang pandai menjahit. Katanya menjahit itu tidak mudah dan harus pintar jika ingin belajar bisa menjahit karena banyak hitungan. Berarti kalau begitu mamahku pintar ya dan aku tidak pintar karena tidak pernah bisa dan tidak pernah mau belajar menjahit…hehe …

Aku senang mengingat lagi cerita manis masa kecilku karena bisa mengenang dijahitkan baju baju oleh mamah. Semoga segala jasa mamah menjahitkan bajuku menjadi amal sholehnya yang bernilai pahala besar di mata Allah. Ya Allah sayangilah mamah yang selalu menyayangiku dalam segala keterbatasannya. Walau mungkin mamah pernah tak mengerti perasaanku tapi aku selalu berusaha memaafkannya seperti aku ingin dimaafkan mamah karena akupun mungkin yang lebih sering tak pernah memahaminya. Aamiin …

NubarNulisBareng/ Lina Herlina