IBADAH DI RUMAH SAJA

Penulis Kontributor Tasikmalaya, Irwan Nugraha | Editor Abba Gabrillin TASIKMALAYA, KOMPAS.com – Pasien yang positif terjangkit virus corona atau Covid-19 di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, kembali mengalami peningkatan. Berdasarkan data hingga Jumat (17/4/2020) pagi, total pasien positif corona tercatat mencapai 25 orang.

“Tuh kan, dasar masyarakat kita itu gak nurut sama pemerintah. Coba kalau yang sudah teridentifikasi itu bok yao tinggal di rumah saja. Ini malah berkeliaran sesuka hatinya. Sakit corona itu bukan aib. Mengapa harus malu? Ya kalau tidak mau diketahui orang lain periksa ke dokter, dan diamlah di rumah” sungut Bu Ai setelah membaca kabar pagi media online.

Saat itu kami berkumpul di sekolah untuk mengadakan rapat yang dengan terpaksa harus dilakukan secara offline. Namun demikian kami tetap menggunakan protocol social distancing.

“Ya. corona itu musuh yang tidak nampak, namun berdampak. Seandainya corona itu besar seperti monster atau raksasa, mungkin kita bisa memeranginya dengan langsung. Tapi ini seperti menguji keimanan. Menganggap dia itu ada walaupun tidak kelihatan.” Bu Irni berpendapat.

“Memang benar apa yang dianjurkan pemerintah, agar kita beribadah, belajar dan bekerja di rumah saja. Hal itu akan memutus mata rantai penyebarannya. Berkaitan dengan ibadah di bulan Ramadhan, menurut saya tidak masalah beribadah di rumah.” Bu Yayah menimpal. “Saya merasakan sendiri hikmahnya. Kali ini ibadah lebih khusuk, suami menjadi imam yang sebenarnya. Anak-anak menjadi makmum. Setelah sholat kami bercengrama dan curhat satu sama lain. Sangat terasa ikatan kasih sayang keluarga ini. Biasanya tidak ada waktu untuk kumpul bersama. Suami berangkat kerja saat anak masih tidur dan datang ketika anak sudah tidur. Begitupun saya, hanya beberapa jam saja bisa bertemu dengan anak.”

“Kualitas ibadah kita tidak hanya ditentukan oleh lokus di mana kita beribadah. Tapi yang tidak kalah penting adalah kualitas ibadah kita ditentukan oleh keikhlasan kita, kekhusukan kita, kesucian jiwa kita,” Jelas Bu Yayah lagi. Bersama keluarga kita bersama-sama bermunajat, bertafakur, berdoa kepada Allah SWT, agar covid-19 ini segera berlalu.”

“Kadang, aku juga merasa parno ketika shalat tarawih di masjid. lirik kiri, kanan, depan, belakang, setelah yakin bahwa yang disekitarku orang-orang yang biasa berada di kampung artinya bukan pendatang atau yang baru mudik, maka aku teruskan sholat.” Kata Bu Ai.

“Pernah suatu malam, seperti biasa kami melakukan shalat di masjid. Setelah selesai kami baru sadar ada 3 orang yang tidak di kenal. Sontak kami membubarkan diri, menghindar untuk berdekatan dengan mereka. Mungkin mereka tersinggung dengan sikap kami, mungkin juga sikap kami yang spontan salah seolah menuduh mereka menyebar penyakit. Tapi coba isolasi diri dulu selama 14 hari. apalagi mereka datang dari zona merah. Gimana kita tidak parno.” Kata Bu Ai tak bisa menutup kekesalannya. “Oleh karena itu, marilah kita beribadah di rumah saja. InsyaAllah Allah menerima ibadah kita, selama kita ikhlas melakukannya. Dan berdoa semoga wabah ini segera berlalu.” Kata Bu Yayah “Aamiin.” Jawab ibu-ibu serempak.