I Can’t Go Home With This!

Dirawat di rumah sakit sebetulnya sudah dialami Fatih sejak lahir. Ya … Fatih adalah anak prematur. Lahir di umur kehamilan 33 minggu. Sesaat setelah dilahirkan, Fatih dilarikan ke NICU. Tapi waktu itu mungkin dia belum ingat ya. Betapa banyak jarum suntik dan selang yang nempel di tubuhnya. Untuk menopang hidupnya, terutama paru-parunya yang belum berkembang optimal.

Kali ini berbeda, Fatih sudah sadar akan dirinya, juga sudah bisa menyampaikan soal rasa sakit. Dipasang infus, butuh dua orang perawat yang memeganginya. Bahkan ketika jarum suntik sudah masuk, tangannya ditarik oleh Fatih hingga jarumnya ke luar lagi. Akhirnya sang perawat mencari jalur infus yang baru. Setelah beres, saya ngobrol dengannya. Saya lupa memberikan briefing role soal dirawat, terutama bagian disuntik dan rasa sakitnya. “You can scream, Fatih, but please don’t pull your arm, let them do their job, trust them.”

Sejak saya ucapkan kalimat di atas, Fatih melakukannya. Buktinya ketika perawat memasang heparin cup di tangan satunya lagi, dia teriak. Teriakannya keras sekali tapi dia tidak menarik tangannya. Tangannya tetap diam dipegangi perawat. Diapun menangis tapi tangannya tetap dia relakan untuk dipegang perawat. Great job, Fatih!

Selama dirawat, makanan rumah sakit tidak disentuhnya. Fatih tidak mau makan. Hanya mau minum. Itu juga minum teh kemasan kesukaannya, dia gak mau minum air putih. Akhirnya ahli gizi datang menanyakan apa saja kesukaan Fatih. Setelah ahli gizi datang, makanan kesukaannya terhidang. Fatih tergugah seleranya, mau makan sedikit, cuma beberapa suap. Sisanya dihabiskan oleh saya hehe. Alhamdulillah sudah mau makan.

Suhu badan Fatih masih naik turun selama dua hari dirawat. Dokter anak sampai meresepkan paracetamol cair untuk Fatih. Agar mudah diserap tubuh dan kondisi Fatih yang menolak minum obat. Diberi suntikan ranitidin cair juga untuk obat mualnya. Setiap hari Fatih diperiksa tiga kali oleh perawat yang berbeda. Karena ada tiga shift perawat yang bergiliran jaga di rumah sakit ini.

Hari ketiga dirawat, suhu badannya mulai stabil, normal. Tapi indikator lain mulai mengkhawatirkan. Trombositnya menurun di bawah angka normal. Hematokritnya naik, di atas normal. Fatih masuk ke fase kritis. Perasaan saya sedih sekali, mendapatkan hal ini. Apalagi kakaknya Fatih juga menyusul dirawat di rumah sakit yang sama dengan penyakit yang sama juga. Kamar rawatnya hanya beda satu ruangan dengan Fatih. Kondisi kakaknya lebih buruk saat itu, karena sudah muntah tiap kali perutnya diisi makanan.

Hari keempat kondisinya kian mencekam. Karena trombosit kian turun dari hari kemarin. Begitu pula dengan hematokrit, nilainya kian meroket. Dokter anak langganan kami menerangkan bahwa hari kelima ini adalah hari ketujuh sejak panas muncul, seharusnya, trombosit sudah mulai naik. Tapi pada beberapa kasus, kenaikan trombosit baru dimulai di hari kedelapan sejak panas muncul. Jadi beliau berkata bahwa jangan khawatir, selama tanda vital Fatih masih normal, insyaaAllah sembuh. Tanda vital yang diukur adalah saturasi oksigen, tekanan darah, suhu badan, cek dehidrasi dan cek volume minum serta urine. Seperti minum berapa ml dan pipis berapa kali, itu ditanyakan dan dicatat oleh suster.

Hari kelima ada insiden yang bikin saya kesal. Perawat yang bertugas hari itu, mengambil sampel darah Fatih, tanpa seizin saya. Biasanya, perawat yang lain dan yang sebelum-sebelumnya, selalu minta izin dulu. Bila saya tertidur, perawat membangunkan saya. Atau ada juga perawat yang menunda mengambil sampel darah, bila melihat saya sedang tidur. Sungkan untuk membangunkan saya. Perawat yang ini, tanpa ba bi bu langsung jos jarum suntik. Jadilah Fatih berontak dan sangat marah. Karena biasanya sebelum diambil darah, saya bangunkan Fatih terlebih dahulu, lalu memberitahunya. Bahwa ada perawat yang akan mengambil sampel darah. Akan terasa sakit, Fatih bisa berteriak atau menangis, tapi tangannya tetap diam jangan ditarik. Setelah beres ambil sampel darah Fatih, saya bilang saja ke perawatnya agar lain kali bangunkan saya kalau ada perlu dengan Fatih. Karena Fatih tanggungjawab saya, jadi saya berhak tahu dan menyaksikan tindakan apapun. Sang perawat mengangguk dan meminta maaf. Beberapa jam kemudian, perawat lain datang ke kamar dan meminta maaf. Bahwa sampel darah Fatih yang subuh diambil oleh perawat, tidak bisa dipakai. Karena dalam sampel tersebut ada bekuan darah. Jadi tidak dapat diproses. Ya Robbi … mendengar hal ini Fatih langsung pucat.

Hasil lab ke luar beberapa jam setelah Fatih diulang diambil darahnya. Alhamdulillah nilai trombosit dan hematokrit normal. Dokter anak berkunjung memeriksa dan mengizinkan Fatih pulang. Tapi ketika ditanya oleh dokter apakah Fatih mau pulang, Fatih dengan lantang menjawab, “I cannot go home with this!” Sambil menunjukkan kedua lengannya yang masih tertancap infus dan heparin cup. Sang dokter tertawa. Akhirnya setelah perawat melepaskan infus dan heparin cup, Fatih mau diajak pulang. Finally, we can go home, dear. Stay healthy everyone.