HUJAN DI BULAN APRIL (Ida Saidah)

Jika satu kesempatan engkau tidak diterima di perguruan tinggi idaman yang dimimpikan sejak keinginan kuliah bersemayam di kepala, tentu akan merasa sedih atau bahkan putus asa. Sebenarnya kasus yang kau alami itu merupakan pengalaman ribuan orang. Jadi bergembira lah, ternyata kau memiliki banyak teman yang senasib.
Sebut saja Afrijal Sentosa, biasa dipanggil Babang. Teman dekatnya cukup memanggil dengan satu suku kata, “Bang”. Ia juara umum di sekolah pavorit terakredasi A plus. Pendiam dan jago matematika. Pernah jadi juara olimpiade sains. Namun nasib berkata lain, ia tidak lulus SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi). Ia kecewa pada sistem. Gurunya pun ikut disalahkan. Hujan yang turun menjelang subuh di bulan April seolah memahami kesedihannya. Semakin menuju pagi semakin deras. Sementara ia harus pergi ke sekolah untuk beraktifitas seperti hari sebelumnya.
Sebagai anak rajin dan pintar, hujan bukan halangan untuk dapat sampai di sekolah tepat waktu. Buktinya, sebelum gerbang masuk lingkungan sekolah dikunci, Babang sudah tiba di kelas XII IPA 3.
Teman-teman satu kelas sudah mulai riuh. Sementara hujan di halaman kelas seolah enggan pergi. Cuaca terasa sangat dingin. Matahari bersembunyi. Semua lampu kelas menyala. Burung-burung yang biasa bertengger di reranting pohon beringin tak terdengar kicaunya.
Anisa dan kawan-kawan menyambut kehadiran Babang, yang tampak tidak sesemangat kemarin.
“Semangat pagi Babang, mana senyummu?
Dasar, aku ini sisik kadal!

Apa kau bilang Bang? Bukannya jawab salam kami, malah ngedumel”, protes Anisa.

Sisik kadal!”

Apa Itu? Anisa menyelidik.

“Ya begitulah, tau sendiri, aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seorang anak sopir angkutan pedesaan. Jadi sepertinya aku tidak layak kuliah di perguruan tinggi pavorit di negeriku sendiri, apa lagi di negeri orang. Nasib baik tidak berpihak padaku”

“Jangan berpikir begitu Bang. Masih banyak kesempatan, kau bisa ikut SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Tunjukkan pada dunia bahwa kau memang hebat. Sekarang fokus saja untuk ujian nasional, ujian terakhir dalam sejarah pendidikan di negeri kita. Aku yakin pasti kau akan jadi pemenang.”

Anisa menyemangati. Ia memang merasa tertarik dengan sosok Babang. Orangnya baik, manis, atletis, dan pintar. Ganteng tentunya.

“Akh Nis! bagaimana kau bisa memiliki keyakinan itu? Lihat bukti yang ada, Andana putra guru di sekolah kita ini, prestasinya biasa-biasa saja. Tugas-tugas sering minta tolong sama kau. Setahuku, ia hanya peringkat ke-10. Itu juga sepertinya nilai pengasih karena orang tuanya termasuk guru yang berpengaruh di sekolah kita. Begitu mudahnya Andana melenggang ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) pavorit, PTN dambaan anak-anak pintar.”

“Maaf Bang, di situ lah letak kelemahan kau. Adat kita mengatakan, adat barsondik syarak, syarak bersondik kitabullah, tak elok berburuk sangka. Ajaran agama kita mengharuskan berprasangka baik! Lagian program studi yang dipilih Andana bukan yang diminati banyak orang. Sepertinya kamu juga kalau milih program studi tersebut, aku yakin, pasti kamu lulus.”

“Terima kasih Anisa Setiawati, kau sudah mengingatkan. Aku banyak berhutang budi kepadamu”

“Ya memang harus demikian, kewajiban. ‘Hidup itu tak lebih untuk saling mengingatkan’, begitu pesan bundo. Menurutku, bagus kau ke mesjid saja sekarang. Laksanakan shalat duha dan mohon ampun lah atas kekeliruan yang telah diperbuat. Tak elok berprasangka buruk pada guru yang telah mengajarkan kita banyak hal, terutama tentang baik dan buruk.”

Babang mengangguk-angguk, “Iya ya, kita tidak akan pernah paham banyak hal kalau bukan jasa para guru.”

Tanpa disuruh dua kali, ia langsung ke mesjid sekolah. Seolah terhipnotis oleh kata-kata Anisa yang sejak SMP (Sekolah Menegah Pertama) telah menjadi teman satu sekolah dan ketika di SMA (Sekolah Menengah Atas), bukan satu kekolah lagi bahkan menjadi teman satu kelas. Jadi di antara mereka sudah saling mengenal sifat masing-masing. Seperti ada chemistry yang tidak terungkapkan. Hal ini tampak jelas dalam bersikap dan bertindak.

Sikap itu lah yang menyebabkan Anisa menyukai teman yang satu ini. Ia tidak suka membantah, jika diingatkan akan kekeliruan yang telah diperbuatnya. Yah dasar perempuan, cepat menaruh hati pada hal yang belum tentu ajeg selamanya.
***
Pengumuman kelulusan SBNPTN telah tersiar ke seluruh penjuru negeri. Babang dan Anisa termasuk yang beruntung. Keduanya diterima di perguruan tinggi sesuai idaman masing-masing. Mereka memilih kuliah di Jawa. Babang kuliah di Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Komputer program studi Sistem Informasi.

Anisa lebih memilih ke (IPB) Institut Pertanian Bogor program studi kedokteran hewan. Program studi yang banyak diminati oleh sebagian siswa di kampung halamannya.

Ia bukan tanpa alasan memilih program studi tersebut. Sebut saja Pak Taufik Ismail yang terkenal sebagai penyair itu. Beliau adalah besutan program studi kedokteran hewan IPB, tetangga kampungnya.

Anisa mengenal Pak Taufik dari guru bahasa Indonesia yang mengajarnya ketika di kelas X. Ia angkat topi pada sosok sekampung halamannya. Ia bangga pada Datuk Panji Alam Khalifatullah yang telah memberi inspirasi bagi banyak orang lewat goresan penanya.

Urang kampuang ambo ko sabana iyo terkenal ke seantaro negeri bahkan ke luar negeri. Ambo harus ikut jejak beliau, batin Anisa.

Hujan bulan April pun berlalu. Babang dan Anisa bersepakat untuk berangkat ke tanah Jawa bersama-sama dengan menumpang bus antarprovinsi.

https://nubarnulisbareng.com/Hujan di Bulan April-cerpen-oleh-ida-saidah/