Hiperplasia endometrium non atipik

Itulah diagnosa dokter kandungan langganan saya. Saya lega, karena bukan kanker. Penyebabnya diduga karena tidak seimbangnya hormon estrogen dan progesteron. Saya diberi resep regumen, kalnex dan juga maltofer.

Awalnya, di tahun 2020, jadwal menstruasi saya kacau. Dua bulan atau tiga bulan sekali, saya mens. Padahal, biasanya jadwal mens saya tepat waktu, setiap 28 hari. Selama 8-10 hari, saya mens. Dengan urutan hari pertama hingga kedua hanya ke luar flek. Hari ketiga hingga kedelapan volume darah mens sangat banyak. Kategori banyak, menurut saya, tiap 2-3 jam, saya ganti pembalut, karena penuh. Hari kesembilan dan kesepuluh, flek dan berhenti mens nya.

Puncaknya terjadi bulan Agustus dan Sepetember 2020. Saya mens tanggal 24 Agustus, hingga 14 hari kemudian belum berhenti. Bahkan darahnya kian banyak. Setiap jam saya harus ganti pembalut karena penuh. Lalu saya berinisiatif berkunjung ke dokter kandungan. Dokter obgyn melakukan USG abdomen. Hasil USG menunjukkan adanya ketebalan dinding rahim 0,6 cm. Jadi masih bleeding. Akhirnya diresepkan kalnex 500mg. Katanya diharapkan pendarahan berhenti dengan obat tersebut. Kalau masih ada keluhan, dipersilakan untuk datang lagi.

Setelah konsumsi obat selama dua minggu dan tidak ada perubahan, saya lalu kontrol lagi. Ternyata ketebalan dinding rahim masih 0,5 cm. Masih banyak darah yang akan ke luar. Saya diminta cek darah. HB saya juga turun cuma 9. Dokter Obgyn nya bertanya, “Apa Ibu mau transfusi darah? HB Ibu rendah. Mungkin akibat kehilangan volume darah dalam jumlah banyak.”

Saya menggeleng. “Saya minta obat saja, Dok.” Saya berfikir, di tengah pandemi covid, harus transfusi darah, saya takut. Berkunjung ke dokter kandunganpun terpaksa karena ikhtiar saya ingin sembuh. Akhirnya sang dokter meresepkan regumen dan maltofer. Regumen ini adalah sejenis pil kb. Diagnosa dokter obgyn, penebalan dinding rahim saya diakibatkan oleh tidak seimbangnya hormon estrogen dan progesteron. Karena kalnex tidak mempan, dicoba dengan obat hormon. Maltofer adalah suplemen zat besi untuk menaikkan kadar HB dalam darah. Dokternya berpesan kalau masih ada keluhan, jangan sungkan untuk kontrol lagi.

Dua puluh sembilan September 2020, saya kontrol lagi. Karena pendarahan masih berlangsung dan saya mulai merasa lemas, pusing dan gampang lelah. Di sini dokter Obgyn kaget. Kalau dihitung, saya sudah mens selama 35 hari. Dan ketika di USG lagi, dinding rahim masih tebal. Karena diberi obat untuk menghentikan pendarahan tidak mempan, pakai obat hormon juga tidak ampuh, akhirnya saya ditawari untuk dikuret. Solusi akhir untuk menghentikan pendarahan akibat penebalan dinding rahim. Saya setujui. Karena sudah kebelet ingin sembuh. Akhirnya saya diberi berbagai macam tes sebelum kuret. Cek darah termasuk rapid tes, foto thorax, EKG dan cek darah rutin. Dan mengkonsultasikan hasil lab ke dokter penyakit dalam. Setelah ada izin dari dokter internist, saya dijadwalkan kuret besok pagi jam 8.

Saya diwajibkan berpuasa sebelum kuret. Pas jam 8 pagi, saya dibawa ke ruangan yang dingin sekali AC nya. Lalu satu persatu saya dipasangi alat. Ada dokter anestesi yang memperkenalkan diri dan dengan ramah bertanya tentang perasaan saya saat itu. “Takut.” Itu perasaan saya.

Sambil tersenyum, dokter anestesi menepuk lengan saya sambil berujar, “Tenang ya Bu. Santai. Berdoa agar semuanya lancar.”

Saya mengangguk. Setelah dokter kandungan datang, saya dibius total. Rasanya ngantuk sekali. Mata saya terasa berat dan akhirnya saya tidur. Pas bangun, saya sudah ada di kamar rawat. Saya haus. Saya minta minum ke suami. Suami bilang, “Nanti dulu, nunggu jam 11, baru boleh minum.”

Alhamdulillah, kuretnya lancar. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush shalihat hasil kuret menunjukkan bahwa bukan kanker. Sujud syukur kepada Allahu Robbi. Semoga sehat seterusnya.

Wawang Yulibrata

One comment