Hikmah Sholawat

By: Denok Muktiari

Sholawat adalah menyebut nama kekasih Allah. Berharap mendapat Rahmat-Nya Allah dengan bertawasul menyebut namanya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ

Kali ini saya akan berbagi pengalaman mengenai hikmah membaca sholawat. Memang hanya pengalaman kecil. Tapi jika pengalaman ini bisa dibagi mudah-mudahan ada manfaat yang bisa dipetik.

Seperti biasa, saya sering melakukan perjalanan dengan kereta api. Perjalanan lokal saja. Saya yakin teman-teman yang pernah naik kereta pasti tahu, aturan baru pembelian tiket kereta api lokal. Pemesanan tiket perjalanan melalui aplikasi KAI Access. Jadi melalui aplikasi ini calon penumpang dapat menentukan tanggal keberangkatan yang diinginkan.

Biasanya pemesanan dapat dilakukan mininal satu pekan sebelum keberangkatan.
Memang aplikasi ini sangat memudahkan penumpang. Namun di balik kemudahan yang disuguhkan ada pula dampak negatif yang harus dirasakan oleh sebagian masyarakat.

Terutama bagi mereka yang tidak mempunyai hp android untuk menggunakan aplikasi ini. Para orang tua yang tidak cakap atau tak mampu mengikuti perkembangan.

Solusinya dari pihak jasa pelayanan transportasi kereta api yaitu dapat membeli tiket langsung di stasiun. Hanya saja layanan ini dibuka tiga jam sebelum keberangkatan kereta atau layanan penjualan tiket go show. Meskipun dimudahkan, pihak kereta api tetap menjual tiket tanpa tempat duduk, dan sebagian besar tiket go show yang dijual untuk kereta api lokal jarak dekat tanpa tempat duduk.

Kasihan bukan jika yang membeli tiket tanpa tempat duduk itu adalah orang tua. Mereka harus rela berdiri. Jika ada tempat duduk kosong boleh diduduki. Dengan konsekuensi jika yang ada penumpang yang mempunyai nomer tempat duduk tersebut, maka yang duduk di situ harus rela berdiri kembali. Ditambah lagi rasa kepedulian orang jaman sekarang yang kurang. Sehingga tak peduli itu tua atau muda asal sudah dapat tiket dengan tempat duduk seolah seperti raja.

“Jeng, nyuwun tulung njenengan lihat, tiketku iki lo nomer pinten nggih. Mataku ora ketok,” tanya ibu-ibu setengah baya yang duduk di samping saya. Seraya menyodorkan tiket yang disimpan dalam lipatan sapu tangan kecil dalam genggaman tangannya.

Saya lihat, dan ternyata ini tiket tanpa tempat duduk.

“Ngapunten Bu, menika tanpa tempat duduk. Mudah-mudahan nanti ada tempat kosong, njengan bisa duduk,” saya menjawab agak bingung menjelaskan. Antara kasihan dan iba.

“Lha iya, jare petugase pesan tiket lewat hp. Lha nggak duwe hp.”
Tak sampai di situ. Si ibu menemui Pak Satpam meminta informasi mengenai tiket yang sudah dibelinya.

“Pak, kula mangke naik di gerbong nomer berapa?”

“Bu, ini tiket tanpa tempat duduk. Jadi boleh masuk di gerbong mana saja,” jelasnya Pak Satpam.

Si ibu mulai bingung. Maklum namanya orang tua sendirian, tanpa ada yang mendampingi anaknya.

“Jeng, yang dapat tempat duduk bayare apa mahal? Kok tiketku nggak ada nomer tempat duduknya?” pertanyaan ini sungguh membuat saya semakin kasihan. Bagaimana tidak, harga tiketnya sama saja, tapi mendapat perlakuan yang beda.

“Jeng, mangke kula tumut njenengan nggih. Biar ada temannya,” pintanya.

Saya hanya menggangguk. Pikir saya kalau ibu ini ikut saya, berarti dia nanti duduk sama saya. Kalau di samping saya nanti ada orang berarti saya yang berdiri. Sudahlah nggak usah dipikirkan. Selama menunggu kereta datang saya terus membaca sholawat. Berharap saya bisa membantu ibu ini.

Kereta datang. Kami masuk gerbong sesuai tiket yang saya punya. Karena saya dapat tempat duduk. Begitu masuk kereta masyaallah, penumpang dalam kereta sangat penuh. Saya mencari nomer tempat duduk sesuai yang tertera di tiket saya. Dalam hati saya berkata sudahlah biar tempatku ini buat ibu tadi. Tetap dengan baca sholawat terus.
Saya lambaikan tangan ke ibu yang tadi, karena dia berdiri di dekat pintu. Sebenarnya saya tidak tahu tempat mana duduk mana yang akan saya tunjukkan kepadanya. Yakin saja pasti ada. Terus baca sholawat. Ibu itu datang ke saya.
“Di mana Jeng?”

Tiba-tiba tangan tangan saya menunjuk tempat duduk di sebelah seberang di mana saya duduk. Akhirnya dia pun duduk. Karena memang kebetulan tempatnya kosong. Padahal banyak sekali penumpang yang berdiri, mengapa mereka membiarkan tempat itu kosong.

Sepanjang perjalanan tanpa putus-putus terus saya lantunkan sholawat dan berharap temapat duduk itu tidak ada yang menempati. Dari setiap pemberhentian, di stasiun-stasiun penumpang turun naik. Silih berganti, kebanyakan yang mereka tidak ada yang punya tiket bernomer di tempat duduk si ibu yang saya pilihkan. Dan alhamdulillah, empat jam perjalanan dia sampai tempat tujuan dengan duduk tenang tanpa ada yang mengusir.

Barakah sholawat. Karena sebagai manusia apa daya saya? Sungguh kejadian ini benar-benar membuat saya semakin yakin bahwa jika kita dekat dengan kekasih Allah, turun Rahmat-Nya dan memudahkan segala urusan kita.

Wallahualam bissawap

Malang, 06 April 2020

2 comments