Hikmah di Balik Musibah

Hikmah di Balik Musibah

Sesungguhnya tak ada satu kejadian pun di luar kehendak Allah. Termasuk mewabahnya novel coronavirus atau COVID-19 (Corona Virus Desease) yang sudah dinyatakan sebagai pandemi global oleh WHO.

Akibat menyebarnya virus ini hampir di seluruh belahan dunia, beberapa negara sudah melakukan lockdown dan sosial distancing. Hanya saja sayang sekali Indonesia masih terhitung santai menanggapi virus yang mewabah ini hingga teguran WHO pun tiba.

Dan ternyata, Indonesia pun sekarang mulai terdengar kabar semakin bertambahnya pasien positif terkena virus COVID-19. Dengan semakin bertambahnya korban yang berjatuhan, Indonesia dinyatakan genting dan pemerintah sudah memberikan instruksi kerja dari rumah termasuk belajar dari rumah untuk meminimalisir penyebaran virus tersebut.

Dampak yang dirasakan dalam dunia pendidikan pun terasa nyata saat semua sekolah diliburkan selama 2 pekan. Termasuk sekolah tempat saya mengabdikan diri juga demikian. Seluruh siswa diliburkan namun tetap belajar di rumah dengan memanfaatkan internet.

Sekolah kami yang kesehariannya siswa lebih banyak setoran hafalan. Sempat muncul pro kontra dari wali santri, menurut sebagian orang tua santri akan lebih aman jika tetap berada di pesantren, namun karena lokasi kami dekat dengan Depok dan Tangerang Selatan yang sudah terindikasi ada pasien positif kena virus tersebut, maka kebijakan yayasan sama seperti kebijakan dinas pendidikan Jawa Barat yakni meliburkan siswa eh mengubah metode belajar dari tatap muka ke LDL (Long Distance Learning) atau sistem belajar jarak jauh.

Ada beberapa hikmah yang bisa kami pelajari dari musibah ini.

Pertama, dengan dipulangkannya santri, terbangun kedekatan antara orang tua, guru, dan siswa karena mau tidak mau orang tua harus mendampingi anak-anak belajar di rumah.

Kedua, anak-anak belajar lebih nyaman dengan suasana rumah, apalagi dengan belajar jarak jauh orang tua akan membekali dengan hp/laptop tentunya dengan internet yang memadai. Tentunya orang tua berperan sangat aktif dalam mengawasi pelaksanaan kegiatan belajar, jangan sampai kebablasan dengan aktivitas gadget-nya.

Ketiga, guru dituntut belajar lebih banyak menggunakan media belajar online.

Keempat, guru dan siswa mendapatkan pengalaman belajar yang baru, lebih seru, asyik dan menyenangkan.

Kelima, muncul kesadaran untuk menjaga kebersihan diri dengan rajin cuci tangan menggunakan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan.

Keenam, lebih mendekatkan diri kepada Allah, banyak berdoa, berdzikir, dan bertawakal kepada Allah. Setelah memaksimalkan ikhtiar tinggal kita berserah diri atas kehendak-Nya.

Semoga kita semua terhindar dari virus yang mengerikan ini. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh